Asteroid Bisa Jadi Ancaman Bumi, Ini Cara Astronom Menghitung Risikonya

0
156

 

(Vibizmedia – Jakarta) Sebuah asteroid yang melintas dekat dengan Bumi belum tentu menjadi ancaman. Dalam astronomi, tingkat bahayanya tidak hanya ditentukan oleh seberapa dekat jaraknya, tetapi juga dipengaruhi ukuran, karakteristik fisik, kecepatan, serta dinamika orbit benda langit tersebut.

Semakin lengkap informasi yang diperoleh, semakin akurat pula astronom dapat memperkirakan kemungkinan sebuah asteroid membahayakan Bumi.

Penjelasan tersebut disampaikan dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Dermawan, dalam hari ketiga kegiatan 100 Jam Astronomi untuk Semua yang diselenggarakan Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), secara daring, Sabtu (3/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Budi membahas karakteristik asteroid, potensi ancaman terhadap Bumi, hingga sejumlah teknologi yang dapat dikembangkan untuk mengurangi risiko apabila suatu objek diketahui berada pada jalur yang berpotensi bertabrakan dengan Bumi.

Tidak Semua Benda Kecil adalah Asteroid

Budi menjelaskan, Tata Surya memiliki berbagai jenis benda berukuran relatif kecil yang tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai asteroid.

Dalam astronomi, benda-benda tersebut antara lain dikelompokkan dalam **Small Solar System Bodies (SSSB)**, yang mencakup asteroid, komet, objek trans-Neptunus, meteoroid, dan sejumlah objek kecil lainnya.

Asteroid sendiri dapat dibedakan berdasarkan karakteristik orbitnya. Beberapa kelompok yang dikenal antara lain asteroid di sabuk utama, Near-Earth Asteroids (NEA) atau asteroid dekat Bumi, Potentially Hazardous Asteroids (PHA), serta asteroid Trojan.

Untuk kepentingan keselamatan Bumi, perhatian khusus diberikan kepada objek yang memiliki orbit yang memungkinkan mereka mendekati lintasan orbit Bumi.

Salah satu parameter yang digunakan untuk melihat seberapa dekat orbit sebuah asteroid dengan orbit Bumi adalah Minimum Orbital Intersection Distance (MOID). Parameter ini menggambarkan jarak minimum antara orbit asteroid dan orbit Bumi.

Namun, nilai MOID yang kecil tidak otomatis berarti sebuah asteroid akan menabrak atau membahayakan Bumi.

Ukuran Menentukan Besarnya Risiko

Ukuran asteroid menjadi salah satu faktor penting dalam memperkirakan konsekuensi apabila terjadi tumbukan.

Asteroid berdiameter sangat kecil tentu memiliki dampak yang berbeda dibandingkan objek dengan ukuran puluhan hingga ratusan meter, meskipun keduanya memiliki jarak lintasan yang sama terhadap Bumi.

“Kalaupun bendanya jaraknya dekat, jarak persilangan ini dekat, tapi bendanya kecil, sebutlah satu meter, kita bisa mengatakan tidak berbahaya. Tapi kalau misalnya sampai 100 meter besarnya, itu berbahaya,” ujar Budi.

Selain ukuran, karakteristik fisik dan kecepatan asteroid turut menentukan besarnya energi yang dapat dilepaskan ketika terjadi tumbukan.

Artinya, penilaian risiko tidak cukup hanya dengan mengetahui posisi asteroid. Astronom juga perlu mendapatkan gambaran mengenai ukuran, komposisi atau sifat fisiknya, kecepatan, serta parameter orbit untuk menghitung kemungkinan dan konsekuensi sebuah tumbukan.

Risiko Bisa Berubah karena Dinamika Orbit

Tantangan lain dalam pemantauan asteroid adalah orbit benda langit tidak selalu bersifat sederhana. Sebuah asteroid dapat mengalami close encounter, yakni papasan sangat dekat dengan Bumi, lebih dari satu kali.

Ketika sebuah asteroid mendekati Bumi, gaya gravitasi planet dapat memengaruhi lintasannya. Perubahan tersebut kemudian dapat membuat posisi dan orbit asteroid pada pertemuan berikutnya berbeda dari perkiraan sebelumnya.

Dalam konteks inilah dikenal konsep keyhole atau “lubang kunci”.

Keyhole merupakan wilayah yang sangat sempit di ruang angkasa. Jika asteroid melewati wilayah tertentu ketika melakukan papasan dekat dengan Bumi, tarikan gravitasi Bumi dapat mengubah orbitnya sehingga pada pertemuan berikutnya asteroid berpotensi masuk ke lintasan tumbukan.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa risiko asteroid tidak dapat dinilai hanya berdasarkan satu kali pengamatan atau satu kali papasan.

Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk memperbarui perhitungan orbit dan memperkecil ketidakpastian. Dengan semakin banyak data, astronom dapat memperkirakan lintasan asteroid pada masa mendatang dengan tingkat ketepatan yang lebih baik.

Waktu Menjadi Faktor Kunci

Keberadaan asteroid yang masuk kategori berpotensi membahayakan juga tidak berarti objek tersebut dipastikan akan menabrak Bumi.

Justru, semakin awal asteroid ditemukan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk melakukan pengamatan, memperbaiki perhitungan orbit, dan jika diperlukan, menyiapkan langkah mitigasi.

Menurut Budi, persoalan utama dalam menghadapi potensi ancaman asteroid adalah seberapa panjang waktu peringatan yang tersedia.

“Semakin dini sebuah objek ditemukan, semakin panjang pula waktu peringatan yang tersedia apabila perhitungan menunjukkan adanya risiko tumbukan. Waktu tersebut menjadi faktor penting karena menentukan pilihan mitigasi yang mungkin dilakukan. Masalahnya adalah berapa waktu tunggu kita? Apakah kita punya waktu tunggu yang cukup?” katanya.

Dengan kata lain, penemuan dini bukan hanya persoalan mengetahui keberadaan asteroid, tetapi juga memberikan ruang bagi ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk menentukan respons yang tepat.

Mengubah Lintasan, Bukan Menghancurkan Asteroid

Salah satu konsep mitigasi yang dapat digunakan untuk menghadapi asteroid berbahaya adalah orbit deflection, yaitu mengubah lintasan asteroid agar tidak lagi berada pada jalur tumbukan dengan Bumi.

Budi menyebut beberapa pendekatan yang dapat dikembangkan, di antaranya slow push, gravity tractor, dan asteroid tugboat.

Pendekatan tersebut pada dasarnya tidak selalu mengharuskan asteroid dihancurkan. Justru, perubahan yang sangat kecil terhadap kecepatan atau lintasan asteroid dapat menjadi strategi yang lebih efektif apabila dilakukan jauh sebelum perkiraan waktu tumbukan.

Perubahan kecil yang diberikan secara dini dapat terakumulasi menjadi perbedaan posisi yang signifikan ketika asteroid akhirnya mencapai kawasan sekitar Bumi.

Karena itu, kemampuan mendeteksi ancaman jauh sebelum kemungkinan tumbukan menjadi salah satu kunci keberhasilan mitigasi.

Memperkuat Kesadaran tentang Ancaman Antariksa

Periset Pusat Riset Antariksa BRIN, Rhorom Priyatikanto, menilai pemahaman masyarakat terhadap lingkungan antariksa juga perlu terus diperkuat.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa ruang di sekitar Bumi tidak hanya berisi fenomena menarik untuk diamati, tetapi juga memiliki berbagai objek dan peristiwa yang berpotensi menimbulkan risiko.

“Silakan manfaatkan untuk sparks our curiosity. Jadi harus menggelitik rasa pengetahuan kita, kita harus paham sekitar kita ada apa, dan barangkali di sana ada ancaman,” ujar Rhorom.

Ia menilai informasi mengenai kebencanaan antariksa perlu disampaikan melalui pendekatan edukasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui adanya potensi ancaman, tetapi juga memahami bagaimana ilmuwan mendeteksi, menghitung, dan mengantisipasinya.

Pada akhirnya, menghadapi ancaman asteroid bukan semata-mata persoalan menunggu benda langit mendekati Bumi. Pemantauan, pengumpulan data, perhitungan orbit, dan deteksi dini merupakan bagian penting dari sistem kesiapsiagaan.

Semakin cepat sebuah asteroid ditemukan dan semakin lengkap data yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mengetahui tingkat risikonya sejak jauh hari. Jika suatu saat perhitungan menunjukkan adanya potensi tumbukan, waktu yang tersedia tersebut dapat menjadi modal paling penting untuk menentukan strategi mitigasi dan melindungi Bumi.