Ekspor Pertanian 2014-2018 Meningkat Hingga 10 Juta Ton, Neraca Perdagangan Pertanian Surplus

0
358
Ilustrasi pertanian di Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/ DANIEL J

(Vibizmedia-Nasional) Berdasarkan data Badan Pusat Statistik periode 2014-2018, volume ekspor pertanian Indonesia meningkat hingga mencapai 10 juta ton.

Dari peningkatan tersebut, neraca perdagangan pertanian menjadi surplus. Pengamat Ekonomi Politik Pertanian Universitas Trilogi Muhammad Karim mengatakan upaya ini merupakan hasil kerja keras Kementerian Pertanian.

Sebelumnya, pada tahun 2016 lalu, impor jagung sebesar 3,5 juta ton per tahun, sementara 2017 tidak ada impor jagung pakan ternak, bahkan selanjutnya 2018 sudah ekspor 340 ribu ton, ungkap Karim dalam keterangan tertulisnya, pada Jumat (23/8).

Ditambah lagi pada 2018 lalu, Indonesia juga berhasil mewujudkan surplus beras. Dari data Kerangka Sampling Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan Indonesia surplus beras sebanyak 3,3 juta ton pada 2018.

Dari bawang putih, sejak 23 tahun terakhir, Indonesia bergantung pada barang impor. Di era saat ini, pemerintah memiliki program wajib tanam bagi importir bawang putih dan ditargetkan akan swasembada pada 2021.

Karim menyampaikan sektor pertanian juga berhasil menurunkan inflasi kelompok pengeluaran bahan makanan pada 2014 sebesar 10,57, kemudian turun menjadi 1,69 pada 2018.
Selain itu, penduduk miskin di pedesaan juga menurun dari 14,17 persen pada tahun 2014 menjadi 13,2 persen pada tahun 2018.

Melihat perkembangan tersebut, Karim menekankan bahwa yang perlu digarisbawahi adalah rakyat Indonesia tidak suka impor dan mengutamakan konsumsi dari hasil petani sendiri.
Jadi janganlah publik dibawa-bawa ke upaya untuk impor. Indonesia sudah swasembada dan bahkan ekspornya melejit, ungkapnya.

Saat ini, menurutnya perdagangan dunia semakin terbuka sehingga tidak mungkin dengan sistem ekonomi tertutup, maka tidak tabu mengadakan ekspor dan impor.

Dalam kesempatan lain, Pengamat Ketahanan Pangan Tjipta Lesmana mengungkapkan berdasarkan hasil riset yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bisa dijadikan acuan.

Penerapan teknologi pertanian dengan belanja alat mesin (Alsintan), perbaikan saluran irigasi tersier, penyediaan benih tanaman, bibit ternak dan pupuk oleh Kementan mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya ekonomi pedesaan, terangnya.

Studi kasus yang dilakukan Bappenas terkait alokasi anggaran belanja 2016-2017 menunjukkan belanja modal mengalami peningkatan paling tinggi yaitu sebesar Rp 39,1 triliun, belanja barang sebesar Rp 31,8 triliun, sedang belanja pegawai Rp 7,5 triliun.

Belanja barang pada periode tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,08 persen. Sementara belanja modal hanya mendorong 0,03 persen. Indikator keberhasilan dapat dilihat pada peningkatan ekspor komoditas pertanian menurut data BPS. Tahun 2018 ekspor komoditas pertanian melonjak tajam menjadi 42,5 juta ton, jelas Tjipta.

Diharapkan pada tahun ini, angka ekspor akan meningkat lagi, karena fokus pada ekspor komoditas pertanian yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, ungkap Tjipta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here