Unjuk Rasa di Hong Kong Belum Menunjukkan Tanda Usai

0
250
Unjuk rasa di Hong Kong (Foto: Wikipedia)

(Vibizmedia – International) Colin Wong, seorang demonstran di Hong Kong, mengenal dengan baik pedihnya “semprotan merica”. Setelah lebih dari satu bulan protes di Hong Kong yang panas terik, ingatan langsung menuju pada apa yang oleh para pemrotes disebut penggunaan kekuatan berlebihan oleh petugas keamanan.

Setiap kali ia merasakan rasa pedih akibat semprotan merica oleh polisi, Wong, 18 tahun, semakin bertekad untuk tidak mundur.

“Setiap kali kami keluar, masalah terus muncul sesudah itu,” kata Wong, merujuk pada ketidakpuasan para pemrotes dengan tanggapan dari penegak hukum dan pemimpin Hong Kong, Carrie Lam.

“Kepercayaan pada seluruh jajaran pemerintah Hong Kong telah sirna,” tambahnya.

Apa yang dimulai sebagai protes terhadap RUU ekstradisi telah membengkak menjadi tantangan mendasar terhadap cara pemerintah mengelola Hong Kong – dan peran pemerintah Hong Kong dalam urusan-urusan kota.

“Hong Kong bukan Hong Kong” telah menjadi slogan gerakan di wilayah yang kini merupakan bagian dari Hong Kong, tetapi dengan undang-undangnya sendiri dan sistem hukum yang terpisah di bawah kerangka “satu negara, dua sistem”.

Ratusan ribu orang turun ke jalan di Hong Kong dalam tiga protes bulan lalu untuk menentang UU ekstradisi, yang memungkinkan tersangka dikirim ke Hong Kong daratan, yang dikhawatirkan para pengecam mereka akan menghadapi tuduhan buram dan pengadilan yang tidak adil.

Dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi juga mencakup dua protes kecil yang dipimpin oleh kelompok-kelompok warga asli Hong Kong yang menentang masuknya warga Hong Kong daratan ke kota yang berpenduduk 7,4 juta orang itu.

Sumber: www.voaindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here