Guna Mendobrak Pasar Ekspor, Kemenperin Dorong Industri Manufaktur Nasional

0
167
Ilustrasi Industri. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Dalam kurun waktu Januari-Mei 2019, sektor manufaktur mampu menyumbang 74,59 persen dari total nilai ekspor nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan secara volume, ekspor industri manufaktur kita mengalami peningkatan 9,8 persen dari Januari-Mei 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurutnya, sampai dengan saat ini, industri manufaktur masih konsisten menjadi kontributor terhadap nilai ekspor kita, terangnya di Jakarta, pada Kamis (11/7).

Dari industri pengolahan ini mampu memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional, selama periode Januari-Mei 2019 saja mencapai USD 51,06 miliar.

Airlangga sampaikan beberapa sektor manufaktur yang berperan besar terhadap capaian ekspor pada lima bulan pertama tahun ini, di antaranya industri makanan yang menembus USD 10,56 miliar, disusul industri logam dasar USD 6,52 miliar, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia USD 5,38 miliar.

Dari industri makanan mampu menyumbang 20,69 persen dari total ekspor industri pengolahan pada Januari-Mei 2019, sedangkan industri pakaian menyumbang sebesar USD 3,55 miliar terhadap ekspor, sementara industri kertas dan barang dari kertas menyumbang USD 3 miliar, terang Airlangga.

Untuk itu, pihaknya terus mendorong peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar domestik dan pasar ekspor, seperti ke Amerika Serikat, Singapura, China, Jepang dan India, kapasitas produksi terus tingkatkan.

Saat ini, pemerintah gencar menarik investasi sektor industri yang dapat menghasilkan produk substitusi impor. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan.

Terbukti, pemerintah telah menunjukkan komitmennya dalam menjaga iklim usaha yang kondusif di Indonesia. Wujud nyatanya antara lain memberikan kemudahan dalam perizinan usaha, menjaga ketersediaan bahan baku dan energi, serta telah menerbitkan kebijakan insentif fiskal untuk memacu industri terlibat dalam kegiatan vokasi dan litbang, ungkapnya.

Ditambah, Kemenperin telah memiliki peta jalan Making Indonesia 4.0, yang mendorong industri manufaktur nasional agar memanfaatkan teknologi industri 4.0. Peta jalan tersebut memacu inovasi produk yang berkualitas sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.

Pada tahun ini, Kemenperin targetkan pertumbuhan industri nonmigas tahun 2019 mencapai 5,4 persen. Selain itu, diproyeksikan industri makanan dan minuman akan tumbuh menjadi 9,86 persen, permesinan sebesar 7 persen, tekstil dan pakaian menjadi 5,61 persen dan kulit dan alas kaki menjadi 5,40 persen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here