Dampak Perang Dagang Amerika-China, Investasi Mengalir ke Indonesia

0
157

(Vibizmedia – Economy & Business) – Saat menghadiri Bloomberg Emerging & Frontier Forum di London pada hari Selasa (25/06), Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sempat diwawancarai oleh TV Bloomberg yang dibawakan oleh Tom Keene dan Nejra Cehic, demikian dilansir dari Kementerian Keuangan.

Menkeu menyampaikan Ia optimistis bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China juga berdampak dalam mengalirkan investasi ke Indonesia karena Indonesia memiliki segala persyaratan kondisi yang diperlukan untuk menjadi tempat investasi. Kondisi tersebut antara lain infrastruktur, simplifikasi peraturan, ease of doing bisnis yang meningkat serta Indonesia juga merupakan pasar yang besar.

“Kita punya segala yang diperlukan investasi untuk mengalir ke Indonesia seperti infrastruktur yang telah berkembang selama lima tahun terakhir, simplifikasi dan deregulasi peraturan, ease of doing business yang meningkat. Indonesia juga merupakan pasar yang besar. Jadi, kita memiliki kondisi yang menarik di dalam perekonomian kita sendiri, stabilitas makro juga kebijakan yang prudent yang telah diterapkan terus-menerus di Indonesia, juga reputasi kemudahan tempat berbisnis dan iklim ivestasi di Indonesia. Kita juga secara agresif mengkomunikasikan kebijakan ini,” paparnya.

Ia percaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 ini masih dapat tumbuh di kisaran 5,3% dari dampak global perang dagang ini. Namun, dengan berbagai risiko yang harus dihadapi seperti menurunnya ekspor, impor dan harga komoditi, Indonesia menargetkan pertumbuhan yang lebih moderat di kisaran 5,17% hingga 5,2%.

“Kita masih menargetkan pertumbuhan 5,3%. Pada kuarter pertama kita tumbuh 5,07% yang disumbangkan dari kombinasi dampak seasonal dan mendekati Pemilu di bulan April. Kita melihat dampak perang dagang dan pelemahan global pada ekspor yang negatif, jadi ada kontraksi ekspor di kuarter pertama. Hal itu menciptakan dinamika pada sisi impor yang juga menurun seperti juga harga komoditi. Risiko ini yang membuat proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun ini menjadi 5,17% hingga 5,2%,” ujarnya.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting 
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here