Jokowi Siapkan Indonesia Hadapi Perang Dagang Amerika Tiongkok

1
224
Presiden Joko Widodo bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Kolom) Perang dagang Amerika dan Tiongkok terus meningkat eskalasinya hingga hari ini, sejak Amerika Serikat memberlakukan tarif kepada Ekspor Tiongkok 25%  untuk ekspor  baja dan tarif 10% untuk ekspor alumunium pada bulan Maret 2018. Trump melakukannya dengan alasan adanya “praktik perdagangan tidak adil” dan pencurian kekayaan intelektual Amerika Serikat (AS). Tindakan ini dibalas oleh Tiongkok yang mengenakan tarif atas 128 barang AS termasuk produk seperti kedelai. Perang kemudian berlanjut pada bulan Juli 2018, AS memberlakukan tarif 25% untuk impor Tiongkok sebesar $50 milyar dan Tiongkok membalas tarif impor senilai $50 milyar  juga.

Masih berbalas dengan perang tarif yang belum selesai, bulan Agustus AS kembali mengenakan tarif 25% senilai $200 milyar, yang kembali dibalas Tiongkok sebesar $60 milyar. Serangan AS tidak berhenti, hingga bulan September 2018 Amerika kembali melakukan hal yang sama atas ekspor Tiongkok ke AS senilai $200 miliar dengan tarif 25%,Tiongkok pun membalas senilai $60 miliar. Akhir 2018 hingga Maret 2019, AS dan Tiongkok setuju untuk sementara waktu melakukan negosiasi dan  menghentikan perang tarif.

Namun pada tanggal 5 Mei 2019, Presiden Trump kembali menaikan tarif atas barang-barang Tiongkok senilai $200 miliar, yang sebelumnya dikenakan 10 persen ditingkatkan menjadi 25 persen. Perang semakin memanas setelah pada tanggal 15 Mei 2019, perintah eksekutif AS yang berisi pembatasan ekspor teknologi informasi ditandatangani oleh Presiden Trump. Perintah ini dibuat untuk tujuan perlindungan keamanan nasional AS. Berdasarkan aturan ini, perusahaan raksasa teknologi Tiongkok, Huawei, sekarang harus meminta lisensi pemerintah AS untuk membeli teknologi AS. Kondisi ini tidak menakutkan Tiongkok, CEO Huawei Ren Zhengfei yakin bahwa sekalipun pertumbuhan Huawei melambat namun diperkirakan hanya sedikit. Media Tiongkok malahan mengumandangkan untuk melawan sampai akhir. Jelas sekali kondisi perang dagang kedua negara ini terus semakin meningkat.

KRONOLOGI PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT TIONGKOK 2018 – JUNI 2019

Mari Pangestu, ekonom dan juga mantan menteri perdagangan dalam sebuah diskusi pernah menyampaikan bahwa, perang dagang ini akan berdampak pada perekonomian dunia. Selain pada pertumbuhan ekonomi, namun juga bisa berdampak pada investasi, sebab faktor supply chain, bahwa output yang dihasilkan Tiongkok dan AS adalah hasil input dari banyak negara yang melakukan investasi untuk produk-produk yang di ekspor. Penetapan tarif secara unilateral baik oleh AS maupun Tiongkok akan mengacaukan kesepakatan-kesepakatan perdagangan dunia, organisasi dagang dunia (WTO) sebagai penengah tidak dapat menjalankan fungsinya dan bisa membahayakan negara-negara lain seperti Indonesia.

Perang tarif AS-China, yang telah diimplementasikan dan diusulkan, dapat memangkas output ekonomi global sebesar 0,5% pada tahun 2020, demikian disampaikan Managing Director International Monetary Fund Christine Lagarde. Christine Lagarde, lebih lanjut mengatakan dalam sebuah catatan singkat untuk para menteri keuangan G-20 dan gubernur bank sentral bahwa mengenakan tarif pada semua perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut akan menyebabkan sekitar $455 miliar produk domestik bruto menguap. Ini akan menjadi kerugian yang lebih besar dari ekonomi Afrika Selatan, katanya.

Sekarang yang perlu disimak adalah, apakah kondisi perang dagang ini mempengaruhi Indonesia? Seperti yang disampaikan Mari Pangestu dan Christine Lagarde bahwa perang ini memang akan membuat kuantitas perdagangan dunia menurun, apalagi dua negara adidaya ini penyumbang terbesar perdagangan dunia. Kondisi ini tentu akan secara besaran mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia, dan kalau secara global hal ini terjadi maka Indonesia juga akan mengalami imbasnya. Namun seberapa besarnya imbas ini, tergantung pada seberapa besar ketergantungan Indonesia pada perdagangan Internasional. Menurunnya perdagangan dunia ini memang akan berdampak kuat pada negara yang ekonominya tergantung pada ekspor (export-driven economies). World Atlas pernah mengeluarkan daftar 15 negara yang ekonominya tergantung pada ekspor, dari sini terlihat negara mana saja yang akan sangat terpengaruh dengan kondisi perdagangan dunia yang menurun.

15 COUNTRIES WITH THE MOST EXPORT-DRIVEN ECONOMIES

Dari komposisi ini terlihat negara Asia seperti Singapura misalnya bergantung pada ekspor 187,6 persen, sebuah angka yang sangat besar. Penurunan perdagangan internasional akan berpengaruh besar terhadap ekonomi Singapura. Bahkan Vietnam, ekonominya bergantung pada ekspor hingga 86,4 persen yang bisa terkena dampak dari situasi perang dagang ini.  Sedangkan Indonesia menurut data World Bank 2017, kontribusi nilai ekspornya terhadap PDB hanya sebesar 20.2 persen. Dari struktur ini dapat dilihat bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia bergantung kepada kekuatan pasar dalam negri (domestic oriented). Bila Indonesia terkena dampak dari perang dagang ini, mungkin Indonesia akan terkena dampak paling terakhir, dan hanya mengakibatkan kontraksi kecil pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Mengambil pendapat dari Mari Pangestu, tentang supply chain, dari ekspor Indonesia ke Tiongkok dan AS, pengaruh perang dagang ini akan memberikan dampak tidak langsung dari penurunan permintaan barang dari Tiongkok  kepada Indonesia. Dampak ini akan membuat penurunan harga komoditas, keuntungan perusahaan akan menurun dan pada akhirnya menurunkan penerimaan APBN. Kondisi ini sudah mulai dirasakan dari adanya defisit neraca perdagangan Indonesia, yang menurut BPS mencapai $2,6 miliar untuk periode Januari hingga April 2019.

TURUNNYA EKSPOR INDONESIA JAN-APR 2019

Sumber: BPS

Alfred Pakasi Managing Partner Vibiz Consulting melihat ancaman kemungkinan datangnya resesi global menjadi semakin terang, berdasarkan riset dari Morgan Stanley . Peringatan ini, bagaimanapun, akan semakin membuat para penentu kebijakan makro Indonesia untuk lebih antisipatif terhadap ancaman tekanan dari global. Kapasitas ekonomi domestik perlu dijaga dan diperkuat. Dalam jangka pendek, harapan lebih akan bertumpu kepada sirkulasi kekuatan ekonomi dalam negeri. Termasuk yang berpotensi kuat menghasilkan devisa, seperti sektor pariwisata.

Melihat dampak positif namun juga negatif akibat perang dagang ini bagi Indonesia, apakah yang harus dilakukan Indonesia menghadapi kondisi perang dagang ini? Kalau menurut saya dengan kondisi ekonomi Indonesia yang domestic oriented  setuju bahwa saat ini lebih baik untuk memperkuat pelaku-pelaku ekonomi dalam negeri.

Apa yang sudah dilakukan Presiden Jokowi melalui program MEKAR, PKH dan yang sejenis lainnya adalah bentuk pengembangan ekonomi yang belum terpengaruh dengan perdagang internasional, namun mampu memberikan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan selama krisis 2008-2009 Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kuat dengan pertumbuhan PDB 4,6 persen, terutama karena konsumsi domestik. Selama pilpres 2019 ini Jokowi telah aktif menyampaikan tentang Kartu Pra Kerja, yang berfungsi menaikkan produktitas dalam negeri kemudian berujung pada peningkatan masuknya investasi. Penerapannya juga akan meningkatkan konsumsi dan berimbas pada beputarnya roda perekonomian dalam negeri.

Para ekonom juga pengusaha memang melihat bahwa ada peluang mengisi pasar Tiongkok yang dibatasi ini dengan produk asal Indonesia, namun untuk mencapai hal ini Indonesia harus menghadapi negara-negara Asean, bersaing satu dengan yang lain. Melihat peluang mengisi pasar ini, Presiden Jokowi beberapa hari yang lalu juga membahas perang dagang ini bersama dengan para pengusaha yang tergabung dalam HIPMI dan KADIN , dan kemudian juga dengan APINDO. Presiden meminta para pengusaha dapat mengambil peluang  dari perang dagang ini. Membangun semangat kebersamaan dengan pelaku-pelaku ekonomi ini, diperlukan agar Indonesia dapat secara bersama-sama memenangkan pasar yang bersaing dengan negara-negara Asean.

Persaingan tidak hanya terjadi pada sisi perdagangan, namun juga harapan untuk negara yang mencari partner untuk masuk ke pasar AS dan Tiongkok menjadi peluang untuk membawa mereka masuk sebagai investor-investor. Mengenai hal ini, presiden Jokowi telah terus menerus melakukan penyederhanaan birokrasi, pembangunan infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang di apresiasi oleh negara-negara serta lembaga-lembaga keuangan dunia. Chatib Basri pengajar senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dalam ulasannya di beberapa media menuliskan bahwa persiapan Indonesia menghadapi kondisi perang dagang ini salah satunya perlu untuk melakukan reformasi dan juga bekerjasama di tingkat regional yang terbuka. Alasannya adalah bahwa ketegangan Tiongkok AS tidak terbatas pada perdagangan saja namun telah bergeser kepada teknologi digital dan mungkin pada hal lainnya menyangkut rivalitas dua raksasa ekonomi, sehingga akan berdampak tidak jangka pendek namun memungkinkan hingga jangka panjang.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai oleh Indonesia dalam konteks perang dagang global ini ialah berubahnya harga komoditi, dimana commodity boom seperti pada tahun 2012 akan lebih sulit muncul apabila keadaan ekonomi global sedang ada dalam perang dagang. Hal ini tentu akan mempengaruhi Indonesia yang masih banyak industri dalam bidang komoditi. Pemerintah Jokowi telah bekerja keras untuk mengurangi ekspor komoditi mentah kepada pasar asing, antara lain dengan membatasi ekspor komoditi tersebut, dan mempermudah untuk melakukan ekspor komoditi setengah jadi, yang lebih kuat terhadap fluktuasi harga komoditi dunia.

Dalam hal teknologi, pertempuran yang semakin berlanjut antara Huawei dengan pemerintah AS pun sangat mempengaruhi perang dagang ini. Para pelaku pasar yang berkaitan dengan teknologi di Indonesia harus dapat mewaspadai hal ini, karena adanya kecenderungan untuk diverging technology, dimana baik AS maupun Tiongkok masing-masing membentuk sistem teknologinya masing-masing, dimana hal ini akan tentu berdampak terhadap angka penjualan barang teknologi di Indonesia.

Selama ini, sebagian besar produk teknologi dari Tiongkok mampu berjalan dengan baik dengan produk software dari Amerika seperti Google Android maupun software-software lainnya seperti Facebook, Amazon Web Service, serta produk-produk lainnya. Bila perang dagang memanas, sangat mungkin produk teknologi Tiongkok tidak akan kompatibel dengan produk teknologi AS, yang sangat memungkinkan untuk berkurangnya pengguna barang teknologi dari Tiongkok di Indonesia.

Persoalan ini bukan perkara yang mudah, namun juga didalamnya ada peluang bagi Indonesia, Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan KADIN dan HIPMI menekankan untuk tidak memandang perang dagang dari sisi permasalahan saja namun adanya peluang yang terjadi. Indonesia perlu segera mempersiapkan diri, agar menghindari badai perang dagang dan tetap mengambil peluang yang timbul dari sisi produksi, konsumsi dan juga investasi. Pandangan-pandangan ekonom yang mengenal Indonesia, para pengusaha Presiden Jokowi dan pemerintah semuanya memberikan optimisme menggunakan perang dagang ini sebagai lompatan ditengah ancaman dan peluang yang ada.

 

Team analyst:

Daniel Sumbayak, BSC, MM, PhD(c),CEO Vibiz Consulting & Head of Vibiz Research Center

 

Fadjar Ari Dewanto, Partner in Business Advisory Vibiz Consulting, Advisor LEPMIDA (Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah), Editor In Chief and Columnist on Vibiz Media Network.

 

 

Maruli Sinambela, Journalist of vibiznews.com, Editor of vibizmedia.com & Partner in management and technology services in Vibiz Consulting.

1 COMMENT

  1. Indonesia perlu segera mempersiapkan diri, supaya bisa terhindar dari badai perang dagang namun tetap dapat mengambil peluang yang ada…
    Benar sekali…terima kasih utk artikel nya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here