Pergerakan Harga Minyak Di Asia Sedang Bangkit ke Posisi Rekor

0
109

(Vibizmedia-Commodity) – Harga minyak mentah dunia yang diperdagangkan di bursa komoditas internasional sesi Asia hari Rabu (17/04) naik karena sentimen pertempuran di Libya dan penurunan ekspor Venezuela dan Iran meningkatkan kekhawatiran tentang pengetatan pasokan global, tetapi ketidakpastian seputar produksi yang dipimpin OPEC memangkas kenaikan terbatas.

Harga minyak mentah berjangka acuan internasional atau minyak Brent yang diperdagangkan di ICE Futures Group naik $0,21 atau 0,29% pada $72,07 per barel. Demikian juga harga Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS yang diperdagangkan di New York Mercantile Exchange naik $0,39 sen atau 0,61% menjadi $64,59 per barel.

Di Libya, pertempuran antara Tentara Nasional Libya Khalifa Haftar dan pemerintah yang diakui secara internasional telah meningkatkan prospek pasokan yang lebih rendah dari anggota OPEC. Sanksi AS terhadap dua anggota lainnya, Iran dan Venezuela, sudah memotong pengiriman. Ekspor minyak mentah Iran telah turun di bulan April ke level harian terendah tahun ini.

Harga minyak telah naik tahun ini lebih dari 30 persen, dibantu oleh kesepakatan antara OPEC dan produsen lain termasuk Rusia. Kelompok ini telah memangkas produksi sejak 1 Januari dan akan memutuskan pada Juni apakah akan melanjutkan pengaturan.

Dari pemberitaan CNBC, Gazprom Neft yang merupakan anak usaha perusahaan raksasa gas Rusia Gazprom, mengharapkan kesepakatan minyak global antara OPEC dan sekutunya akan berakhir pada paruh pertama tahun ini.

Namun posisi harga emas mendapat tekanan dari perkiraan pasar adanya  kekhawatiran yang berkembang bahwa Rusia tidak akan menyetujui perpanjangan pemotongan produksi pada pertemuan OPEC bulan Juni untuk memutuskan apakah akan melanjutkan menahan pasokan.

Produksi minyak serpih yang membengkak di Amerika Serikat juga telah membantu mengendalikan harga patokan minyak mentah. Output minyak mentah AS dari tujuh formasi shale utama diperkirakan akan naik sekitar 80.000 barel per hari di bulan Mei ke rekor 8,46 juta barel per hari, menurut laporan EIA.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting  
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here