Enam Infrastruktur Pendukung Program Citarum Harum Dikejar Penyelesaiannya oleh PUPR

0
99
Pembangunan Infrastruktur Pendukung sistem pengendalian banjir Citarum Harum (Photo: Kementerian PUPR)

(Vibizmedia – Nasional) Dalam rangka mendukung program Citarum Harum, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) terus berupaya menyelesaikan enam pembangunan infrastruktur sistem pengendalian banjir sungai Citarum Hulu.

Program Citarum Harum digulirkan pada Februari 2018, merupakan program digelorakannya kembali pemulihan sungai terpanjang di Jawa Barat ini, dengan lebih terintegritas karena dibawahi langsung pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Pelaksanaan sejumlah program dan rencana aksi yang dilakukan dalam pengelolaan Sungai Citarum ini melibatkan banyak pihak,. Sebut saja Citarum Bergetar (bersih, geulis dan lestari) yang meliputi kebijakan dan hukum, pengendalian pemulihan konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Pola induk Citarum Bergetar lahir sebagai respon keprihatinan atas kondisi daya dukung sumber air dan lingkungan yang semakin kritis. Langkah ini digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sedangkan keenam infrastruktur yang akan dibangun kembali adalah:  normalisasi sungai di hulu, pembanguan Embung Gedebage, pembangunan kolam retensi Cieunteung, pembangunan Floodway Cisangkuy dan Pembangunan Terowongan Nanjung..

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, selama ini pada saat musim hujan, debit banjir Sungai Citarum yang besar tertahan batuan besar di Curug Jompong yang juga merupakan situs budaya. Oleh karenanya dibangun terowongan yang akan memperlancar aliran dan meningkatkan kapasitas Sungai Citarum dari semula hanya bisa menampung banjir kala ulang lima tahunan atau Q5 = 570 m3/detik menjadi Q20 = 643 m3/detik.

Keberadaan Terowongan Nanjung bersama infrastruktur pengendali banjir Sungai Citarum, seperti kolam retensi Cieunteung, floodway Cisangkuy, Embung Gedebage dan normalisasi Sungai Citarum akan menurunkan luas genangan 700 hektare, dari semula 3.461 hektare menjadi 2.761 hektare. “Apabila 1 hektare dihuni  oleh 20 kepala keluarga (KK) maka akan ada 14.000 KK yang merasakan manfaat dari pembangunan terowongan ini,” kata Hari Suprayogi melalui siaran pers, Senin (11/3).

Terowongan Nanjung terdiri dari 2 tunnel dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter dalam 8 meter. Pembangunan terowongan telah dimulai pada November 2017 dengan progres saat ini mencapai 22% dan ditargetkan rampung akhir tahun 2019. Proyek dikerjakan oleh kontraktor PT. Wijaya Karya dan PT. Adhi Karya (Kerjasama Operasi) dengan anggaran sebesar Rp 352 miliar.

Pada musim hujan aliran sungai Citarum sebagian besar dialirkan melalui terowongan. Pada musim kemarau, pintu terowongan akan ditutup sehingga dapat dilakukan pengerukan sedimen.

Emy T/Journalist/BD
Editor : Emy Trimahanani

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here