Lensa Jakarta: Taman Suropati yang Teduh, Keren dan Bersejarah

2
194
Taman Suropati di Menteng Jakarta Pusat. (Photo: Emy T/VM)

Suatu hari saya menghadiri undangan seminar di Kantor Bappenas di Jalan Taman Suropati No. 2, Menteng, Jakarta Pusat. Di luar prediksi lalu lintas lancar sekali, alhasil saya tiba lebih pagi. Kemana dulu ya? Tiba-tiba mata saya tertuju pada Taman Suropati yang tak terhitung berapa kali saya lewati namun belum pernah masuk ke dalam taman tersebut. Langsung kaki ini saya arahkan ke taman yang berlokasi berseberangan dengan Kantor Bappenas .

Taman Suropati dahulu bernama Burgemeester Bisschopsplein, diambil dari nama burgemeester (wali kota) Batavia pertama saat itu yakni G.J. Bisshop yang menjabat pada tahun 1916 sampai 1920. Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut kemudian diubah menjadi Taman Suropati.

Pohon Mahoni yang menghiasi Taman Suropati di Menteng Jakarta Pusat. (Photo: Emy T/VM)

Yang paling mencolok di Taman Suropati adalah hadirnya keteduhan dari puluhan pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) raksasa dan artistik  menghiasi taman ini. Sejak zaman penjajahan Belanda pohon  Mahoni banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan yang dibangun oleh Daendels antara Anyer sampai Panarukan. Tapi sekarang pohon Mahoni memang  dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis tinggi. Kualitas kayunya keras, sangat bagus untuk bahan pembuatan meubel, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan lainnya.

Selain pohon Mahoni juga ada pohon besar lainnya seperti  Sawo Kecik (Chrysophiliiumsp), Ketapang (Terminalia catappa), Tanjung (Mimusop elengi), Bungur (Lagerstromea loudnii) yang dirawat dengan baik oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta.

Air mancur di Taman Suropati di Menteng Jakarta Pusat. (Photo: Emy T/VM)

Seperti taman kota lainnya, Taman Suropati dihiasi air mancur bahkan ada 2 air mancur yang bisa dinikmati indahnya, gemercik bahkan cipratan airnya yang menyejukkan.

Taman Suropati di Menteng Jakarta Pusat. (Photo: Emy T/ VM)

Suasana teduh di taman ini makin dihidupkan dengan cuitan dan kepak sayap burung dara yang beterbangan di sekitar taman. Sarang burung dara yang khas juga melengkapi keindahan dan taman.

Kandang burung dara di Taman Suropati (Photo: Emy T/ VM)

Wah…cantinya taman ini, warga sekitar memanfaatkannya untuk berolah raga pagi, selalu tampak  mobil parkir sekeliling taman, pemiliknya lari pagi atau jalan-jalan beberapa kali mengitari taman. Di siang hari ternyata ada pengunjung juga, mahasiswa yang berdiskusi, para pegawai kantor sekitar yang beristirahat sejenak setelah makan siang, juga tampak warga asing duduk membaca buku.

Paduan tanaman dan karya seni bisa dengan puas Anda nikmati, terdapat karya seni berupa patung atau monumen. Salah satunya monumen simbol “Persaudaraan” hasil karya Nonthivathn Chandhanapalin, dari Thailand, seperti tampak pada gambar.

Monumen simbol “Persaudaraan” hasil karya Nonthivathn Chandhanapalin, dari Thailand, di Taman Suropati (Photo: Emy T/ VM)

Sebenarnya, tidak harus kita mencari tempat refreshing ke luar kota, taman Suropati bisa jadi alternatif bagi masyarakat yang ingin melepas penat di sore hari atau di akhir pekan.

Emy T/ Journalist/ VM                                                                                                 Editor: Emy Trimahanani

 

 

2 COMMENTS

  1. Terimakasih untuk tulisannya, Taman Suropati dahulu bernama Burgemeester Bisschopsplein. Setelah Indonesia merdeka, nama tersebut kemudian diubah menjadi Taman Suropati. Syukur untuk kemerdekaan Indonesia.

  2. Taman Suropati memang asri…
    Ada ditengah kota. Mudah dicapai dan banyak pohon2 tua dan burung2 perkutut.. menambah keasrian.
    Saya sering jg berjemur di sini…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here