Market Outlook, 19-23 November 2018

0
58

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu pasar modal di Indonesia bergerak fluktuatif dengan menguat kencang di 4 hari terakhir didorong bargain hunting, sementara bursa Asia variatif dan kurang jelas arahnya di tengah ketidakpastian pasar dari Inggris dan Eropa. Secara mingguan IHSG ditutup menguat tajam 2.35% ke level 6,012.350. Untuk minggu berikutnya (19-23 November) IHSG kemungkinan akan berhadapan dengan profit taking karena sudah di posisi overbought, namun daya kenaikan masih ada menuju resistant berikut, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6086 dan kemudian 6113, sedangkan support level di posisi 5747 dan kemudian 5733.

Mata uang rupiah secara mingguan bergerak menguat ke level Rp14,608, di tengah kenaikan BI 7-Day Repo Rate ke 6.0%, sementara dollar di pasar global makin meninggalkan level 16 bulan tertingginya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,930 dan 15,230, sementara support di level 14,530 dan 14,368.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data Housing Starts pada Selasa malam; disambung dengan rilis Core Durable Goods Orders m/m dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis dataInflation Report Hearings Inggris pada Selasa sore; selanjutnya rilis German Flash Manufacturing PMI pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Monetary Policy Meeting Minutes RBA Australia pada Selasa pagi.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar melemah semakin meninggalkan level 16 bulan tertingginya oleh komentar dari pejabat the Fed tentang melambatnya ekonomi global serta menguatnya lagi euro dan sterling, dimana indeks dolar AS secara mingguan melemah ke 96.42. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau menguat ke 1.1413. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1499 dan kemudian 1.1620, sementara support pada 1.1214 dan 1.118.

Poundsterling minggu lalu terlihat turun ke level 1.2830 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3174 dan kemudian 1.3257, sedangkan support pada 1.2695 dan 1.2661. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 112.82.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 114.20 dan 114.54, serta support pada 112.55 serta level 111.37. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7330. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7381 dan 0.7452, sementara support level di 0.7163 dan 0.7020.

 

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia umumnya berakhir mixed, karena concern investor terhadap ketidakpastian pasar dari Inggris dan Eropa terkait isyu Brexit. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 21685. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22580 dan 22670, sementara support pada level 20970 dan lalu 20775. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 26132. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26798 dan 27276, sementara support di 24525 dan 23696.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah dalam pasar yang fluktuatif, dipimpin merosotnya saham sektor teknologi. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 25416,30, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 26273 dan 26535, sementara support di level 25054 dan 24120. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2736,00, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2789 dan 2816, sementara support pada level 2603 dan 2594.

 

READ MORE

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here