Market Outlook, 24-28 September 2018

0
95

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu pasar modal di Indonesia menguat kembali setelah sempat tergerus di awal minggu, searah dengan bursa Asia yang menanjak karena harapan bahwa perang dagang AS – China diperkirakan tidak sekeras yang semula dikhawatirkan. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.4% ke level 5,957.740. Untuk minggu berikutnya (24-28 September) IHSG kemungkinan masih bertenaga untuk menanjak walau bakal sempat dihadang aksi profit taking serta tetap mengacu kepada arah bursa kawasan juga. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6086 dan kemudian 6117, sedangkan support level di posisi 5781 dan kemudian 5621.

Mata uang rupiah secara mingguan bergerak melemah terbatas ke level Rp14,816 oleh penguatannya pada akhir minggu, sementara dollar agak berkurang permintaannya di pasar uang global karena baliknya preferensi terhadap asset berisiko. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,940 dan 15,000, sementara support di level 14,770 dan 14,543.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data CB Consumer Confidence pada Selasa malam; disambung dengan rilis Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya rilis data FOMC Economic Projections dan pengumuman Federal Funds Rate pada Kamis dini yang diperkirakan akan naik ke 2.25%; disambung dengan data Core Durable Goods Orders m/m dan Final GDP q/q pada Kamis malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa pidato ECB President Draghi pada Senin dan Kamis malam; selanjutnya rilis data Current Account Inggris pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman Official Cash Rate RBNZ (New Zealand) pada Kamis dini hari yang diperkirakan bertahan di level 1.75%; serta pengumuman BI 7-Day Repo Rate pada Kamis sore yang diperkirakan akan naik lagi ke level 5.75%.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar melemah ke level 2.5 bulan terendahnya karena berkurangnya permintaan atas dollar sebagai safe haven di tengah meredanya tensi perang dagang antara AS dan China dan investor kembali ke mata uang emerging, dimana indeks dolar AS secara mingguan melemah ke 94.20. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau menguat ke 1.1748. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1851 dan kemudian 1.1995, sementara support pada 1.1620 dan 1.1529.

Poundsterling minggu lalu terlihat fluktuatif dan berakhir flat di level 1.3070 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3297 dan kemudian 1.3362, sedangkan support pada 1.2896 dan 1.2785. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 112.57.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 113.16 dan 113.74, serta support pada 111.11 serta level 110.37. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7287. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7361 dan 0.7381, sementara support level di 0.7141 dan 0.7084.

 

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat mengikuti Wall Street yang mencetak rekor baru di tengah berkurangnya kekhawatiran pasar atas perang dagang AS dengan China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melejit ke level 23905. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 24125 dan 25000, sementara support pada level 22965 dan lalu 22170. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 27931. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28567 dan 28656, sementara support di 26579 dan 26163.

READ MORE

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here