Nasionalisme di Amerika Serikat, Nike, dan Colin Kaepernick

0
54

(Vibizmedia – Column) – Bagi orang Amerika Serikat (AS), pasti masih ingat ketika pada tahun 2016, Colin Kaepernick, salah satu pemain National Football League (NFL) memilih untuk berlutut saat lagu kebangsaan Amerika Serikat berkumandang di lapangan. Hal itu, sebenarnya merupakan hal yang sangat dilarang, karena sudah merupakan aturan yang ada, bahwa seluruh hadirin yang ada, termasuk di dalamnya atlet dari NFL, harus berdiri ketika lagu kebangsaan dikumandangkan, seluruh Namun kala itu, Kaepernick memilih untuk berlutut saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Bagi Kaepernick, hal yang dilakukannya adalah bentuk perlawanan atas “ketidakadilan” karena ditembaknya seorang warga berkulit hitam oleh kepolisian Amerika Serikat.

Colin Kaepernick, yang dulunya adalah atlet American Football dari klub San Francisco 49ers, memang terkenal kontroversial. Dikatakan kontroversial, adalah karena atlet berdarah campuran kulit putih dan hitam ini, melakukan pelanggaran yang menyangkut hal yang sensitif, yaitu nasionalisme.

Seperti yang kita tahu, memang kita tidak boleh bersikap seenaknya ketika lagu kebangsaan sedang dikumandangkan. Akan tetapi, Colin Kaepernick berani melakukan pelanggaran dengan cara tidak berdiri saat lagu kebangsaan berkumandang. Hal tersebut, akhirnya menimbulkan pro dan kontra. Banyak pihak yang mencela “aksi berlutut” Kaepernick, karena hal yang dilakukannya dianggap sebuah penghinaan. Akibat perbuatannya itupun, Kaepernick akhirnya dipecat dari klubnya.

Memang, tindakan yang dilakukan Kaepernick memang salah, dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Tapi anehnya, banyak pihak justru mendukungnya, dimana salah satunya adalah NIKE, brand sepatu dan perlengkapan olahraga ternama. Sebelumnya, Kaepernick memang sudah menjadi salah satu endorser dari NIKE sejak tahun 2011. Namun, pada tahun 2018 ini, pada perayaan anniversary NIKE yang ke 30, NIKE sepertinya lebih terang-terangan memasang wajah Kaepernick di billboard yang merupakan bagian dari promosi NIKE. Di billboard yang ada, terlihat wajah Colin Kaepernick untuk kampanye Just Do It dalam pose close up, dengan tulisan “Believe in something. Even if it means sacrificing everything.” 

Bagi sebagian orang, perbuatan Kaepernick layaknya “pahlawan” yang memperjuangkan akan apa yang diyakininya. Tapi sebenarnya, bagi yang berpikiran lurus, jika dikatakan even if it means sacrificing everything, yang artinya bahkan mengorbankan segalanya, marilah kita berpikir, apa yang sebenarnya dikorbankan oleh Kaepernick? Jujurnya ia tidak mengorbankan apapun. Dan kalau ia mendapat hukuman seperti dipecat dari klubnya, bukankah itu semua karena memang kesalahannya yang melanggar aturan Negara?

Sebenarnya, Kaepernick bukanlah termasuk bintang NFL yang terkenal sebelumnya. Ia tak terlalu bersinar di lapangan, dan dari segi prestasi, banyak atlet NFL yang lebih unggul darinya. Namun, karena ia melakukan aksi berlutut itulah, namanya mencuat ke permukaan. Beberapa orang sepertinya juga menganggapnya sebagai “simbol perlawanan” dari kondisi yang ada di Amerika Serikat.

Sebenarnya, tak jelas apa maksud NIKE untuk menjadikan Kaepernick sebagai icon di perayaan anniversary NIKE yang ke 30. Apakah sekedar untuk mendongkrak penjualan untuk mengalahkan Adidas, kompetitornya? Atau bisa jadi NIKE juga memasukkan unsur politis di dalamnya? Jujurnya, saya pun tak paham apa maksud dari NIKE untuk hal tersebut.

Tapi tentu saja, hal yang dilakukan oleh NIKE memancing banyak reaksi. Ada yang memasang hashtag #BoycottNike di media sosial mereka, ada juga yang terang-terangan membuat posting yang memperlihatkan sepatu Nike yang dibakar atau dibuang ke tong sampah. Ada juga komen dari netizen, yang menyatakan bahwa ia lebih akan lebih memilih untuk berbelanja Adidas, kompetitor Nike. Bahkan, saham dari NIKE pun dikabarkan sempat turun sekitar 3 persen setelah memasang Kaepernick sebagai “wajah” NIKE untuk perayaan anniversary ke 30. Namun, ada juga pihak yang malah mendukung tindakan NIKE yang memasang wajah Kaepernick untuk kampanyenya.

Video tentang seorang konsumen yang membakar sepasang sepatu Nike, yang beredar di internet

Sebenarnya, terjadinya reaksi tersebut, dipicu oleh suatu hal, yaitu masalah NASIONALISME. Bagi Amerika Serikat, berdiri saat lagu kebangsaan dinyanyikan, merupakan bentuk nasionalisme, yaitu sebagai penghormatan terhadap bendera, lagu kebangsaan, dan juga terhadap pahlawan dan veteran yang membela Negara.

Dan sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Kaepernick, pada akhirnya tidak bermuara di isu rasial, atau tidak bermuara pada isu keadilan, tapi lebih mengarah kepada perilaku nasionalisme.

Memang, dari kasus ini, sebenarnya kita bisa melihat dua sisi dari masyarakat Amerika Serikat, dimana sisi pertama, orang Amerika Serikat yang memang masih sangat nasionalisme, yang merasa bahwa apa yang dilakukan Kaepernick sangat salah. Meskipun, menurut saya, tak perlu juga sampai membakar sepatu sebagai bentuk protes, karena hal itu sebenarnya ujungnya sia-sia belaka juga.

Sisi yang kedua, yaitu orang yang merasa masih nasionalisme, tetapi padahal sebenarnya tidak, karena mereka masih memandang keadilan suatu Negara berdasarkan rasial. Well, ini sering terjadi, karena pada kenyataannya, saya pernah menyaksikan sendiri, bahwa isu rasial memang sangat tajam di Amerika Serikat akhir ini.

Dan dari hal ini, saya juga semakin paham, bahwa sebenarnya nasionalisme orang Amerika Serikat pada umumnya, memang sangat kuat. Tapi di sisi lain, melihat masih banyaknya orang yang mendukung “aksi berlutut” Kaepernick, hal itu menunjukkan bahwa isu rasial, memang masih merupakan “dagangan” yang laku untuk dijual. Faktanya, meskipun saham NIKE sempat dikabarkan turun, namun setelah itu pun sahamnya sempat dikabarkan naik juga. Hal ini, memperlihatkan bahwa peristiwa ini pun sebenarnya masih mengandung pro dan kontra.

Tapi pada intinya, setidaknya hal ini mengingatkan kita, jangan sampai isu rasial membuat kita berani bersentuhan dengan hal yang menyangkut atribut Negara. Karena, seperti kasus Kaepernick ini, akhirnya menyebabkan pro dan kontra yang tak habisnya, seperti isu rasial yang semakin tajam, dan juga pada akhirnya berujung kepada masalah nasionalisme. Namun setidaknya, saya mengambil suatu pelajaran penting, yaitu bersyukur di Indonesia ini, dimana kita tak mempersoalkan perbedaan ras yang ada, tapi justru menganggapnya sebuah kekayaan bangsa. Bukankah itu lebih indah? Salam semangat!

Zefanya Jodie Sumbayak, MBA

Images : youtube

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here