Langkah Pemerintah Hadapi Maraknya Human Trafficking di Indonesia

0
401

Vibizmedia berkesempatan untuk mewawancarai Ibu Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di kantornya. Tentunya suatu kehormatan bisa mewawancarai Ibu Yohana Yembise. Wanita kelahiran Manokwari, 1 Oktober 1958 ini begitu ramah, dan sangat cerdas. Bahkan, terlihat ia begitu memiliki passion yang kuat untuk memajukan wanita dan anak-anak di Indonesia. Kepada Vibizmedia, ia menuturkan dengan jelas mengenai isu yang ada pada wanita dan anak-anak masa kini, program 3 Ends yang dijalankannya, serta cita-citanya bagi wanita dan anak Indonesia, termasuk di dalamnya impiannya akan adanya Kabupaten Layak Anak di Indonesia nantinya.

Berikut petikan wawancaranya :

Vibizmedia : Jadi saya ingin bertanya pada Ibu, kan Ibu sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pasti tugas Ibu sangat beragam dan dan sangat banyak mengingat banyak isu juga di Indonesia saat ini. Menurut Ibu, isu sosial apa yang sangat penting saat ini ?

Yohana Yembise : Ini berhubungan dengan perkembangan teknologi dan globalisasi yang terjadi saat-saat ini. Ya melihat bahwa isu yang sangat krusial untuk kita dan ini merupakan isu nasional adalah isu trafficking. Trafficking, perdagangan orang masih cukup tinggi di Indonesia. Kalau isu-isu lain seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak dalam segala bentuk kita sudah mulai melakukan sosialisasi, bukan baru mulai, tapi sudah berjalan sudah sekian lama, jadi bukan menjadi masalah. Masyarakat semakin hari semakin sadar untuk lapor, namun yang tadi saya katakan, trafficking ini sampai sekarang kita belum bisa menjawab itu, karena ini membutuhkan kerjasama antar Kementerian, lembaga pemerintah terkait.

Kalau dilihat dari isu trafficking ini, di sisi lain perempuan merasa bahwa bisa menghasilkan sesuatu, dalam arti kualitas perempuan meningkat, namun di sisi lain itu termasuk menurunkan kualitas harkat dan martabat perempuan sebenarnya, kalau dilihat itu diinjak-injak. HAM sampai saat ini untuk perempuan tidak ada, trafficking itu sampai keluar negeri juga sudah sampai. Saat bertemu beberapa perempuan-perempuan kita yang ada di shelter-shelter, banyak yang mengeluh tentang HAM yang ada dinegara tujuan mereka, itu belum cukup maksimal.

Jadi perempuan masih dianggap seperti apa ya? tidak dilihat bahwa perempuan itu punya hak yang sama, hak yang hidup sesuai dengan perempuan-perempuan lain, namun ini kelihatannya masih dianiaya, masih banyak seperti tidak dihargai, gaji mereka tidak dibayarkan, masih tetap dianiaya, tempat tinggal mereka, kalau dilihat tempat tidur mereka sudah tidak seperti hak yang sesuai, jadi hal seperti itu menunjukkan bahwa isu trafficking ini cukup berat.

Bukan hanya trafficking, juga masalah TKW juga masih cukup berat sekali untuk Indonesia, TKW ada dimana-mana, jadi memerlukan perhatian khusus, kita harus menjawab, bukan hanya dari Kementerian saya (PPPA), juga Kementerian antar negara, salah satunya dalam rangka perekrutan tenaga-tenaga kerja ini keluar negeri, perekrutan ini masih belum sesuai standar yang memadai, sehingga pada saat mereka diluar negeri, berhadapan dengan masalah dan penguasaan bahasa, sehingga komunikasinya tidak berjalan dengan baik antara TKW itu dengan majikannya. 

Jadi itu salah satu budaya negara setempat tidak dikuasai seperti WAY OF LIFE, perilaku hidup orang-orang di negara itu tidak dipahami sehingga bermasalah. Jadi masalah trafficking, masalah TKW, masih jadi masalah yang sangat berat sekali untuk kita, pemerintah tanggulangi.  Trafficking itu termasuk transnational crime yang illegal yang harus dijawab sampai, tidak jauh-jauh, kita bisa lihat kenyataan di lokalisasi-lokalisasi, dimana prostitusi cukup banyak dan korbannya perempuan dan anak-anak, yang dipakai digunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan mereka, jadi dalam hal ini perempuan-perempuan itu diperjual belikan begitu saja, seperti diperdagangkan. Terjadi sekarang diseluruh Indonesia, cukup banyak, sudah kita, kalau tidak salah, sudah menutup sekitar 163 lokalisasi di seluruh Indonesia.  Tapi masih banyak perempuan dan anak yang menjadi korban. Jadi, mungkin itu isu yang masih krusial yang masih harus kita jawab, bukan untuk kementerian PPPA, tapi antar Kementerian, bekerja sama dengan Kementerian lainnnya.

Tapi kita tetap melakukan sosialisasi, saya juga beberapa kali masuk ke lokalisasi-lokalisasi, bertemu dengan perempuan-perempuan disana dan saya pastikan ada indikasi-indikasi trafficking sampai ada yang menangis, dan mengajak mereka untuk jangan sampai waktu kalian hanya sepenuhnya tinggal di tempat seperti ini,  kalian harus pulang, kapan-kapan datakan siapa yang akan pulang.

Dan, pemerintah dapat melihat bagaimana memberdayakan perempuan-perempuan ini dengan kegiatan-kegiatan dan juga bisa membangun keluarga-keluarga, akan mempunyai anak-anak generasi yang bisa dipakai kedepan, artinya mereka generasi kedepan yang akan melahirkan generasi-generasi itu, jadi saya mengajak mereka untuk jangan sampai waktu mereka sepenuhnya tinggal dilokalisasi atau tinggal di tempat prostitusi. Jadi saya juga pernah pergi ke lokalisasi, banyak yang menangis didepan saya, itu setelah saya melihat, kalau ada yang menangis pasti ada indikasi trafficking.

Vibizmedia : Pasti bukan karena kemauan mereka?

Yohana Yembise: bukan, mungkin karena  tadinya mereka sudah terlanjur, keluar dari situ agak susah. Dan ini saya akan lanjutkan terus kunjungan saya kesemua lokalisasi untuk memberikan pencerahan dan mengajak kaum perempuan ini untuk pulang dan melakukan hal-hal terpuji dan membangun keluarga untuk masa depan anak-anak mereka.

Ikuti episode berikutnya dalam wawancara khusus dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise dalam topik : Three Ends

 

Journalist : Rully

Editor : Zefanya Jodie Sumbayak

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here