Imigran Ilegal dan DACA, Masalah Yang Masih Jadi PR Pemerintah AS Hingga Kini

0
447

(Vibizmedia – Column) – Isu imigrasi, memang menjadi topik yang terus dibicarakan dalam dunia politik di Amerika Serikat. Masih ingat ketika terjadi government shutdown pada awal tahun 2018? Salah satu penyebabnya, memang karena masalah imigrasi juga.

Sejak pemerintahan Presiden Donald Trump, isu mengenai imigran ilegal dan DACA (Deffered Actions For Childhood Arrivals), memang semakin ramai terdengar. Mulai dari rencana pembangunan tembok, dan juga berbagai upaya sepertinya akan dilakukan Presiden Donald Trump untuk memperketat imigrasi. DACA dan imigran ilegal, sebenarnya hingga kini, masih merupakan PR (pekerjaan rumah) yang sulit diselesaikan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Bicara mengenai DACA, saya pernah membahas di kolom “Like and Dislike” Dalam Government Shutdown di Amerika Serikat Tahun 2018 Awal , dimana para penerima program DACA, adalah para imigran ilegal yang dibawa orangtuanya pada saat mereka masih kanak-kanak. Namun sayangnya, para penerima program DACA tak memiliki jalur atau kesempatan untuk menjadi warganegara, kecuali jika mereka menikah dengan warganegara Amerika Serikat. Selain itu, tak ada jalur sama sekali, dan seumur hidup mereka akan terkatung-katung sebagai warganegara ilegal juga. Jika mereka dideportasi, tentunya hal itu legal saja, karena status mereka masih tergolong ilegal hingga kini.

Akhir-akhir ini, sering terdengar para penerima program DACA yang melancarkan protes, bahkan ada yang sampai memblokir akses masuk Disneyland di California. Di sisi lain, ada juga penerima program DACA yang membela Trump, seperti Hilario Yanez, yang mengatakan bahwa kepemimpinan Partai Demokrat, telah memanfaatkan para DREAMers (para penerima program DACA-red) hanya sebagai pion saja.

Memang, cerita tentang imigran memang seolah tak pernah ada habisnya di Amerika Serikat. Dan sepertinya, Presiden AS Donald Trump juga berusaha agar masalah ini selesai, meskipun belum terlihat jelas dimana ujungnya. Seperti halnya tentang DACA, tentunya tanggal 5 Maret nanti merupakan penentuan tentang nasib mereka nantinya. Keseriusan untuk bisa menyelesaikan masalah DACA, tentunya juga terlihat dalam twitter Presiden AS Donald Trump pada tanggal 13 Februari 2018 kemarin.

Lain DACA, lain lagi tentang imigran ilegal. Pada kenyataannya, banyak orang yang terjebak menjadi imigran ilegal karena pemikiran “American Dream” dalam benak mereka. Dengan “modal nekat”, orang bisa saja rela pergi ke Amerika Serikat dengan berharap mendapatkan penghidupan yang baik. Tapi, ada kesalahan yang mereka dilakukan, dimana mereka bukan berusaha mendapatkan legalitas terlebih dahulu, malah nekat tinggal dan mencari pekerjaan dengan status ilegal.

Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana cara seorang ilegal bisa bekerja di Amerika Serikat? Pada umumnya, jika seseorang akan bekerja di Amerika Serikat, pihak perusahaan akan meminta SSN (Social Security Number) dari pelamar pekerjaan tersebut. Dan biasanya, SSN akan bisa didapatkan jika seseorang sudah mendapatkan legalitas untuk tinggal di Amerika Serikat. Namun, ada saja cara orang ilegal untuk mendapatkan pekerjaan, yaitu dengan mencari pekerjaan yang tak diminta SSN, seperti pengasuh anak-anak, pekerja bangunan, dan lainnya. Saya juga pernah mendengar, ada juga imigran ilegal yang bisa mendapatkan SSN, tetapi tentunya dengan cara yang tak wajar, yaitu  dengan mencuri SSN orang yang sudah tiada.

Menjadi seorang warganegara ilegal di Amerika Serikat, sebenarnya tidaklah mudah. Kalau seorang ilegal kedapatan melakukan kriminal, deportasi sudah menunggu di depan mata. Namun, tetap saja sepertinya orang tak ada hentinya untuk menjadi imigran ilegal di Amerika Serikat. Apalagi setelah mereka mendapatkan pekerjaan disana, sepertinya mereka jadi semakin tak perduli dengan status mereka sebagai warganegara ilegal.

Bicara soal membereskan imigran ilegal di Amerika Serikat, tentunya tak semudah membalikkan telapak tangan. Belum lagi, kalau bicara soal kasus kriminal yang terjadi, seperti kejadian pada tanggal 4 Februari 2018, dimana Manuel Orrego-Savala, seorang imigran ilegal asal Guatemala, mengendarai truk dalam keadaan mabuk sehingga menabrak dan menewaskan Edwin Jackson, atlet National Football League (NFL) dan satu orang lainnya, Jeffrey Monroe. Manuel Orrego-Savala sendiri, pernah dideportasi dua kali, yaitu pada tahun 2007 dan 2009. Namun entah alasan apa yang membuatnya bisa diterima kembali ke Amerika Serikat setelah 2 kali dideportasi. Peristiwa itu, cukup menarik perhatian, sampai Presiden AS Donald Trump pun menuliskan tanggapannya mengenai kasus meninggalnya Edwin Jackson dalam Twitter miliknya, tanggal 6 Februari 2018.

Baik DACA maupun imigran ilegal, sebenarnya merupakan kasus yang sulit untuk terpecahkan. Bagi para penerima program DACA, mungkin mereka bisa “kelihatan aman” pada awalnya, karena mereka bisa mendapatkan izin untuk bersekolah dan bekerja. Tapi, untuk jangka panjangnya, para penerima program DACA tak ada jaminan untuk bisa tinggal secara legal di Amerika Serikat. Bagi imigran ilegal, mereka memang sejak awal tak punya hak untuk bekerja dan tinggal secara legal di Amerika Serikat. DACA dan imigran ilegal, dua hal yang terus-menerus menjadi masalah hingga kini.

Faktanya, masa depan para penerima program DACA jelas akan terkatung-katung, kecuali mereka menikah dengan warganegara Amerika Serikat. Alasannya jelas, karena para penerima program DACA, tak dapat menukar program DACA dengan visa apapun, bahkan dengan visa studi (F1), yang tergolong mudah untuk didapatkan.

Namun, lain lagi bagi para imigran ilegal. Bagi saya, apabila seorang imigran menjadi ilegal di Amerika Serikat, seringkali hal itu adalah kesalahan pribadi mereka dari awal. Amerika Serikat, sebenarnya merupakan negara yang cukup terbuka dan juga menyediakan jalur yang jelas untuk mendapatkan kewarganegaraan. Tapi, mengapa orang tetap bisa jadi ilegal, bisa jadi karena mereka malas untuk mengusahakan visa mereka untuk mendapatkan legalitas di Amerika Serikat. Ada beberapa visa yang dapat diusahakan untuk mendapatkan legalitas di Amerika Serikat, seperti visa F1 (visa studi), visa EB1 sampai EB5 (temporary workers), visa H1-B (visa kerja), dan berbagai visa lainnya. Tetapi, memang mendapatkannya, tentunya tak terlalu mudah. Tapi, dikatakan sulit, tidak juga. Intinya, diperlukan usaha yang maksimal.

Mungkin orang akan bertanya, ya kalau saya tak dapat kerja bagaimana? Kan sulit juga dapat visa kerja. Jawabannya jelas, cobalah mengusahakan visa yang termudah, yaitu  visa studi (F1). Memang tak dapat dipungkiri, biaya pendidikan di Amerika Serikat sangatlah mahal. Tapi, kalau mau berusaha, tentunya bisa mendapatkan beasiswa, bukan? Intinya, semua hanya di usaha, ketekunan, dan konsistensi untuk mengerjakannya.

Andaikan ada yang bertanya, kalau saya mau mendapatkan visa studi (F1) di Amerika Serikat, tapi saya tidak bisa bahasa Inggris, bagaimana? Jawabannya sebenarnya jelas, Anda harus belajar dan usaha. Tapi, fakta pun membuktikan, ada juga imigran yang datang dengan mengantongi visa studi (F1), tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali pada awalnya, namun pada akhirnya bisa bertahan dan kini menjadi salah satu CEO wanita ternama di Amerika Serikat. Wanita itu adalah Liliana Gil Valletta, imigran legal asal Kolombia.

Liliana Gil Valleta, menjejakkan kakinya di Amerika Serikat pada usia 17 tahun, hanya dengan visa studi (F1), dan sebuah koper. Saat itu, ia bahkan tak bisa berbahasa Inggris. Namun, ia datang dengan status sebagai imigran legal, dan menempuh jalur yang benar untuk menjadi warganegara. Kisahnya memang cukup inspiratif. Bahkan, Ivanka Trump, juga memasukkan kisah singkatnya dalam instagram miliknya tahun lalu.

Mimpi Amerika atau “American Dream”, memang begitu mendorong banyak orang untuk mengejar keinginan untuk tinggal di Amerika Serikat. Segala jalur ditempuh, hingga menjadi ilegal pun berani. Namun, di sisi lain, American Dream ini memang jadi menyisakan kesulitan yang tak pernah berhenti, dimana orang tetap tidak kapok menjadi imigran ilegal demi mengejar peluang untuk tinggal di Amerika Serikat. Dan di sisi lain, ada juga pihak yang sengaja memanfaatkan para imigran ilegal maupun DACA, untuk keuntungan mereka. Seperti menjadikan mereka tenaga kerja murah dengan jam kerja yang sesukanya dan tak sesuai ketentuan pemerintah, atau bahkan memanfaatkan mereka untuk dijadikan pion untuk kepentingan politik oleh pihak tertentu. Meskipun masalah imigrasi ini kelihatannya “tenggelam” dengan berbagai kasus lainnya di Amerika Serikat, tapi pada kenyataannya, masalah imigrasi ini tetaplah belum selesai.

DACA dan imigran ilegal, memang merupakan masalah yang sulit untuk dibereskan. Mengenai DACA, hal itu akan dibahas oleh pemerintah pada tanggal 5 Maret 2018 nanti, meskipun belum tahu apa keputusan dan penyelesaiannya. Dan mengenai imigran ilegal, tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan kehidupan mereka kelak jika mereka masih ngotot bertahan di Amerika Serikat dengan status mereka yang sebenarnya melanggar hukum. Apapun keputusan pemerintah nanti mengenai DACA maupun imigran ilegal, pada kenyataannya, dua hal tersebut memang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum dapat terselesaikan hingga kini.

 

 

Zefanya Jodie, MBA/Editor In Chief Vibizmedia.com

 

Picture : Wikimedia Commons

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here