Kontroversi H&M: Masalah Rasisme atau Konsep Pemikiran Yang Berbeda?

0
1005
Logo H&M, Wikipedia

Beberapa saat yang lalu, saya mengetahui tentang hal yang ramai dibicarakan, yaitu tentang kontroversi iklan dari brand H&M yang cukup memanas. Mungkin, pendapat saya berbeda dengan orang lain, yang menganggap hal itu adalah isu rasisme yang sangat intoleran.

Bicara mengenai kasus H&M yang dituduh rasis, sebenarnya itu hanyalah masalah iklan mereka yang menampilkan seorang bocah berkulit hitam yang merupakan model dari printed hooded top H&M yang bertuliskan “Coolest Monkey In The Jungle”, yang artinya monyet terkeren di hutan. Hal itu, menimbulkan kemarahan besar bagi sebagian pengunjuk rasa di Afrika Selatan, dimana  6 toko H&M yang ada di Gauteng, Afrika Selatan pun didatangi sejumlah pengunjuk rasa. Bahkan, ada pengunjuk rasa yang dengan kasar juga menendang pakaian yang dijual di salah satu toko disana. Bukan hanya di Afrika Selatan, di Amerika Serikat, beberapa orang pun melayangkan protes serius kepada H&M melalui social media miliknya.

Sebenarnya, seringkali yang terjadi adalah, hal yang sebenarnya bukan rasisme, dianggap sebagai rasisme. Coba jika diaplikasikan ke diri kita, atau let’s say, ke saya sendiri. Saya tidak akan marah jika saya harus mengenakan baju dengan tulisan seperti demikian. Karena bagi saya, saya bukanlah monyet, dan tulisan itu hanya sekedar tulisan saja bagi saya. Sebenarnya, berapa sering sih, kita juga mengenakan baju bergambar monyet, gajah, beruang, ikan, dan lainnya? Tetapi, hal itu bukan berarti kita adalah hewan yang ada di gambar tersebut, kan? Sekali lagi, itu adalah masalah pola pikir pribadi saja.

Baik di Afrika Selatan maupun di Amerika Serikat, kedua negara tersebut sama-sama memandang bahwa iklan H&M tersebut adalah rasis dan tidak bisa diterima.  Tapi, mengapa hal itu bisa terjadi, tentunya saya bisa mengerti. Isu rasisme, terkadang menjadi hal yang masih suka dibicarakan di Amerika Serikat. Di Afrika Selatan, mungkin saja kenyataannya tak jauh berbeda.

Di Amerika Serikat, ketika Anda berkunjung ke State tertentu, Anda akan heran jika mendengar orang berkata “dia itu rasis sama saya”. Dan herannya lagi, yang bicara itu lebih dari satu orang. Dan terkadang, orang yang bicara selalu merasa dia orang lain rasis terhadap dia, untuk hal yang sebenarnya sudah sangatlah lampau. Dan kadang, pernyataan dia mengenai orang lain rasis terhadapnya, seringkali hanyalah sekedar perasaan saja.

Budaya di Amerika Serikat, memang bisa dikatakan berbeda dengan budaya kita di Indonesia. Jujur saja, bangsa Indonesia ini luar biasa pemaafnya. Kita tidak pernah ada masalah dengan bangsa lainnya yang dahulu pernah menjajah kita, dan bagi kita, semua yang sudah berlalu ya tak perlu dibahas lagi. Namun, hal itu jugalah yang membuat bangsa kita menjadi sangat berkembang dalam toleransi dengan segala keberagaman yang ada.

Sedangkan, orang di Amerika Serikat pada kenyataannya masih berkutat di isu rasisme untuk beberapa State tertentu. Saya mengatakan ini, karena saya sudah pernah berada di Amerika Serikat untuk beberapa waktu, untuk mempelajari budaya disana. Jujurnya saya merasa heran, di zaman modern seperti ini, kok masalah yang sudah lampau, masih saja suka “sengaja” diangkat ke permukaan. Bahkan, terkadang rasisme sengaja diangkat ke permukaan karena menjadi “dagangan” yang laku dijual, terutama untuk kepentingan politik dan dunia perfilman di Amerika Serikat. Percaya tak percaya, tapi itulah kenyataan yang ada.

Kembali ke kasus kontroversi H&M, jika Anda bertanya kepada saya, apakah sebenarnya iklan itu merupakan rasisme yang disengaja? Bagi saya, tentu saja tidak. Bisa saja, pihak H&M tidak ada maksud rasisme sama sekali. Namun, bagi pihak tertentu, hal itu sudah dianggap rasis karena pola pikir mereka yang demikian. Tetapi pada kenyataannya, belum tentu hal itu sebenarnya mengandung unsur rasisme.

Dalam hal ini, mungkin pihak H&M bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam pemilihan konsep periklanan, tentunya mereka harus melakukan penelitian yang lebih mendalam, agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi.

Ada hal yang positif dan profesional yang dilakukan pihak H&M, yaitu mereka pada akhirnya berani untuk meminta maaf dan menurunkan iklan tersebut. Menilik dari kasus yang terjadi pada iklan brand H&M, tentunya hal itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, untuk terlebih dahulu budaya suatu bangsa dengan lebih dalam. Dan jika diperlukan, lakukan juga riset pasar dengan menanyakan pendapat masyarakat mengenai rencana periklanan kita. Suka atau tidak, hal itu paling tidak membantu agar iklan yang diluncurkan, tidak akan menjadi masalah untuk jangka panjangnya.

Zefanya Jodie Sumbayak, MBA – Editor In Chief VM                                                      Editor: Emy T

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here