Unggulan Investasi Indonesia di 2018: Pariwisata dan E-Commerce

0
49
Senja di Pulau Ransiwor, Raja Ampat (Photo: Sharon/Vibizmedia.com)

(Vibizmedia – National) Iklim investasi Indonesia selama tahun 2017 kian bertambah sehat. Dalam waktu tiga tahun peringkat ease of doing business Indonesia melonjak dari 120 menjadi 72. Dan di 2018 ini, pertumbuhan terbesarnya diprediksi datang dari sektor pariwisata dan E-Commerce.

Presiden Joko Widodo pada ratas investasi yang berlangsung Jumat (5/1) mengatakan: “Saya ingin lebih fokus dan konsentrasi lagi di investasi. Kemudian kedua yaitu ekspor atau perdagangan luar negeri”.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong juga ingin bergerak cepat. Pertumbuhan investasi di Indonesia, menurutnya, harus terus membaik mengingat negara-negara pesaing juga ikut tumbuh. Pemetaan potensi pun langsung dilakukan. Semua sektor yang berpeluang menarik investasi ditelaah dan hasilnya ada dua sektor yang investasinya dinilai paling berpeluang tumbuh pesat tahun ini yakni: pertama pariwisata dan kedua adalah e-commerce.

Pariwisata menjadi unggulan karena mayoritas berada di sektor jasa. Selain itu, pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat. Setiap tahun, performa pariwisata Indonesia menanjak. Grafiknya sangat kontras bila dibandingkan komoditas lain, seperti minyak, gas, batu bara, serta kelapa sawit terus merosot. “Hasilnya cepat, dampak lapangan kerjanya cepat, dan pengahasilannya cepat. Devisanya jalan,’’ kata Lembong.

Melalui branding Wonderful Indonesia, peringkat daya saing pariwisata Indonesia di dunia terus naik. Setelah melompat tajam dari ranking 70 pada 2013 menjadi ranking 50 pada 2015, indeks daya saing Indonesia kkembali melesat naik 8 peringkat ke peringkat 42 pada 2017 berdasarkan laporan resmi World Economic Forum.

“Target saya, Indonesia akan mampu mencapai rangking 30 dunia. Dan pariwisata akan menjadi penghasil devisa negara terbesar sekaligus menjadi destinasi pariwisata terbaik di tingkat regional serta global,” ungkap Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.

Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatwan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini.

Untuk e-commerce, BKPM sudah membuat hitungan. Selama 2017, total investasi e-commerce lebih dari USD 5 miliar. Itu setara separo dari total investasi migas di tahun yang sama. “Nilainya besar sekali. Perkiraan saya tumbuhnya 50-80 persen year on year (yoy),” lanjutnya.

Khusus e-commerce peluang modal masuk dari Tiongkok cukup besar. Setidaknya ada dua pemain utama asal Tiongkok yang hendak masuk, yakni Alibaba dan Tencent. Khusus Tencent, dikabarkan hendak menanamkan modalnya sebesar Rp 16 triliun di salah satu unicorn Indonesia, Go-Jek.

Selebihnya, investor lain yang juga tidak kalah besar berasal dari ventura-ventura yang ada di Silicon Valley, Amerika Serikat. “Kami sedang upayakan agar lebih banyak yang masuk dari Eropa dan Jepang,” tuturnya.

Journalist: Mytri
Editor: Emy T                                                                                                            Source: Kemenpar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here