Market Outlook, 2-5 January 2018

0
63

(Vibizmedia – Market Outlook) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia bergerak dalam rally rekor setiap harinya sampai mencetak rekor sepuluh kali dalam sebelas sesi harinya melanjutkan sentimen Fitch Ratings sebelumnya, sehingga secara mingguan bursa ditutup menguat dalam rekor ke level 6,355.65. Untuk minggu berikutnya yang pendek (2-5 Januari) IHSG kemungkinannya akan bergerak dalam rentang terbatas karena masih suasana libur panjang Tahun Baru dengan aksi profit taking siap menghadang. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 6368 dan 6400, sedangkan support di level 6167 dan kemudian 6088.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat bergerak melemah tipis dalam perdagangan yang cenderung terbatas range-nya walaupun pergerakan dollar AS sedang merosot, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level 13,563. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,591 dan 13,640, sementara support di level 13,533 dan 13,508.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing PMI pada Rabu malam; disambung dengan rilis FOMC Meeting Minutes pada Kamis dini hari; berikutnya data tenaga kerja ADP Non-Farm Employment Change, Crude Oil Inventories dan Unemployment Claims pada Kamis malam; diakhiri dengan rilis tenaga kerja Non-Farm Employment Change, Unemployment Rate, dan Average Hourly Earnings m/m, serta ISM Non-Manufacturing PMI pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Selasa sore; selanjutnya rilis Construction PMI Inggris pada Rabu sore; ditutup dengan data CPI Flash Estimate y/y zona Eropa pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Caixin Manufacturing PMI China pada Selasa pagi.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terperosok di level tiga bulan terendahnya dan membukukan penurunan tahunan terburuk sejak tahun 2003, di mana secara mingguan index dollar AS melemah ke level 92.29. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau menguat ke 1.2001, level tiga bulan tertingginya. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2091 dan kemudian 1.220, sementara support pada 1.1816 dan 1.1717.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.3505 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3548 dan kemudian 1.3656, sedangkan support pada 1.3220 dan 1.3129. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 112.69. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 113.73 dan 114.72, serta support pada 111.39 serta level 110.80. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat tipis ke level 0.7722. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7728 dan 0.7883, sementara support level di 0.7500 dan 0.7372.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum mixed di minggu terakhir di ujung ahun 2017. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 22765. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22990 dan 23380, sementara support pada level 22115 dan lalu 21970. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 29886. Minggu ini akan berada antara level resistance di 30150 dan 30186, sementara support di 28116 dan 28090.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau terkoreksi terbatas di akhir tahun setelah rally lima minggu berturut-turut. Dow Jones Industrial secara mingguan terkoreksi tipis ke level 24740, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 24874 dan 25000, sementara support di level 24128 dan 23922. Index S&P 500 minggu lalu melemah terbatas ke level 2674.6, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2694 dan 2750, sementara support pada level 2694 dan 2605.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau menguat oleh terseoknya dollar dan membukukan kenaikan 12% sepanjang tahun yang merupakan tahun terbaiknya sejak 2010, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang menguat ke level $1302.35 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1313 dan berikut $1333, serta support pada $1262 dan $1236. Di Indonesia, harga emas terpantau menguat ke level Rp562,838 per gram.

 

Selamat Tahun Baru 2018 bagi semua pembaca Vibiznews.com! Tahun yang baru memberikan harapan baru, setelah tahun 2017 merupakan tahun yang penuh dengan gejolak dan sekaligus kejutan pasar. Tentunya, tidak ada janji bahwa tidak akan ada lagi gejolak di tahun 2017 ini. Amerika dipastikan memasuki siklus kenaikan suku bunganya yang akan menimbulkan spekulasi pasar di sana-sini. Eropa dan Inggris akan ramai dengan perkembangan Brexit dan mungkin exit negara lainnya. China masih bergumul dalam pertumbuhan sektor industri dan perekonomiannya. Di sana-sini juga akan kerap terjadi kenaikan tensi geopolitik, baik di Korea, Timur Tengah dan kawasan lainnya. Harapan baru bagi kita bukanlah tenangnya pasar. Bukan, itu tidak akan pernah terjadi, di samping pasar jadi tidak menarik lagi dalam keserbatenangannya. Harapan itu ada pada penguasaan pengetahuan dinamika pasar yang semakin baik. Untuk hal ini, teman setia investasi Anda siapa lagi kalau bukan vibiznews.com? Memasuki tahun yang baru ini, perkenankan kami sampaikan selamat menuai sukses di tahun 2018 serta terima kasih bagi Anda semuanya, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Analyst: Alfred Pakasi

Editor: J. John

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here