Tahun Lalu 9.100 Kantor Cabang Bank Eropa Tutup, Nasabah Pindah ke Online

0
597

(Vibizmedia – International) – Perbankan di Uni Eropa terpaksa telah menutup 9.100 kantor cabangnya dan memangkas sekitar 50.000 orang staf pada tahun 2016 lalu. Hal ini terjadi dengan meningkatnya penggunaan layanan perbankan online oleh para nasabah.

Menurut data dari Federasi Perbankan Eropa, jumlah kantor cabang bank di Uni Eropa telah turun menjadi 189.000 kantor pada tahun 2016 lalu. Angka ini turun 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, demikian dilansir dari Reuters, Rabu (13/9).

Jumlah pegawai bank juga berada pada titik terendah sejak tahun 1997, yakni sekitar 2,8 juta orang, menurut analisis yang dilakukan federasi tersebut.

Secara keseluruhan sudah ada 48.000 kantor cabang bank yang ditutup di Uni Eropa sejak tahun 2008 sampai 2016. Pengurangan ini mencapai seperlima dari jumlah kantor cabang bank yang ada.

Perbankan terpaksa harus memilih untuk menutup kantor cabang fisik guna menekan biaya. Banyak nasabah dewasa ini lebih memilih melakukan pembayaran secara elektronik, layanan perbankan digital dan mobile dengan suku bunga kredit yang lebih rendah.

Rendahnya suku bunga telah menekan sumber pendapatan yang bisa dipakai untuk pembiayaan, pendapatan, atau investasi, sehingga laba perbankan pun semakin tergerus.

Bank-bank juga saat ini mengenakan biaya (fee) pada jasa-jasa yang semula gratis, termasuk di dalamnya untuk pembukaan rekening dan penarikan dana, sebagai alternative untuk bisnis bank tetap bertahan.

Beberapa negara di Uni Eropa meresponnya dengan menutup kantor-kantor cabang. Di Inggris, misalnya, sebanyak 762 kantor cabang bank telah ditutup pada tahun ini. Perbankan juga melirik konsolidasi atau merger guna meningkatkan profitabilitas, tren yang dimulai sejak tahun 2009 silam, demikian dilaporkan Reuters (13/9).

 

Digital Banking Harus

Analis Vibizmedia memandang bahwa industri perbankan di Indonesia juga harus semakin mengarah ke digital banking, atau akan tenggelam dalam berbagai kompetisi layanan keuangan online yang semakin marak dewasa ini. Di kota-kota saja saat ini kita dapat memesan transportasi online dengan dukungan pembayaran online. Lebih murah, lebih praktis, dan dapat diskon pula.

Untuk perbankan, hasil survei McKinsey Asia Personal Financial Services pada tahun 2014 bisa jadi acuan. Hasil survei tersebut menyebutkan penggunaan digital banking di negara Asia-termasuk Indonesia-amat sangat pesat.

Pada 2011 hanya ada 10% saja dari total responden yang terlibat dalam transaksi digital banking. Namun saat disurvei ulang 3 tahun kemudian, angka tersebut melonjak hingga 3 kali lipat. Bahkan khusus untuk kanal yang melalui smartphone meningkat 5,2 kali lipat.

Penggunaan smartphone di Indonesia juga bertumbuh dengan pesat. Diperkirakan pada tahun 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Sejalan dengan itu, layanan keuangan dengan menggunakan smartphone akan semakin diminati dan dibuthkan. Maka, perbankan yang akan survive di masa depan adalah yang kuat dalam layanan online dan unggul di digital banking.

 

Sumber: Reuters dan sumber lainnya

Editor: J. John

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here