Washington Pekan ini Berfokus pada Ancaman Korea Utara

0
344
Wapres AS Mike Pence (kiri) diberi penjelasan oleh Komandan untuk Komando Pasukan untuk PBB, Pasukan AS untuk Korea dan Komando Pasukan Gabungan, Jenderal AS Vincent Brooks (kanan), di Pos Observasi Ouellette, Zona Demiliterisasi (DMZ), dekat desa perbatasan Panmunjom, Korea Selatan, 17 April 2017. (AP Photo/Lee Jin-man)

Washington pekan ini benar-benar memusatkan perhatian mengenai Korea Utara setelah Pyongyang melakukan uji coba misil terbarunya serta memamerkan persenjataan yang kemungkinan jenis misil baru jarak jauh yang dirancang untuk ditembakkan dari kapal.

Misil jarak menengah yang diuji coba Pyongyang gagal, meledak beberapa detik setelah diluncurkan. Namun hal itu menunjukkan berlanjutnya pembangkangan Korea Utara terhadap tekanan asing agar menghentikan program misil balistik dan nuklirnya.

Wakil Presiden Amerika Mike Pence tiba di Korea Selatan beberapa jam setelah uji coba misil Korea Utara. Uji coba itu tentu merupakan peristiwa yang tidak dapat ia abaikan dalam pernyataannya kepada pasukan Amerika di sana.

“Provokasi pagi ini dari Korea Utara merupakan peringatan terbaru mengenai risiko yang Anda hadapi setiap hari dalam membela kebebasan rakyat Korea Selatan dan dalam membela Amerika di bagian dunia ini.”

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya harus memikirkan hal baru ini: seperti apa misil jarak terjauh Korea Utara.

“Tujuan parade itu adalah untuk memamerkan kemampuan militer yang sifatnya mengancam. Dan karena itu tidak jelas apakah senjata-senjata tersebut sungguhan atau palsu,” kata HR McMaster, Penasihat Keamanan Nasional Amerika, dalam acara ABC This Week.

Pemerintahan Trump mengisyaratkan tekad yang paling kuat untuk melenyapkan ancaman Korea Utara, tanpa peduli apakah senjata tersebut sungguhan atau palsu.

“Semua pilihan siap dibahas. Jelaslah bahwa presiden bertekad tidak akan membiarkan kemampuan semacam ini mengancam Amerika Serikat. Dan presiden kita akan mengambil tindakan,” imbuh HR McMaster.

Selama puluhan tahun, pemerintahan Amerika telah mendesak China agar meningkatkan tekanan terhadap Korea Utara. Presiden Donald Trump juga melakukan hal yang sama, dan tampaknya bersedia mengesampingkan janji kampanye pentingnya untuk memastikan kerjasama dari Beijing.

“Saya akan memerintahkan Menteri Keuangan untuk menetapkan China sebagai manipulator mata uang, sesuatu yang seharusnya dilakukan bertahun-tahun silam,” kata Presiden Trump dalam kampanyenya 28 Juli lalu.

Pertaruhannya tinggi, kata mereka yang memiliki pengalaman langsung mengenai Semenanjung Korea.

“Mereka telah melakukan lebih dari 25 uji coba misil. Mereka sedang membuat suatu generasi misil yang sepenuhnya baru. Orang-orang kerap berpendapat bahwa ini tampaknya mengenai keberlangsungan rezim Korea Utara, inilah cara mereka bertahan, menjadi negara pemilik senjata nuklir. Sebenarnya menurut saya mereka lebih ambisius lagi. Mereka tampaknya menganggap ini sebagai cara untuk memisahkan Amerika dari sekutu-sekutunya,” jelas Christopher Hill, mantan Duta Besar Amerika untuk Korea Selatan, dalam acara ABC This Week.

“Ada konsensus internasional sekarang ini, termasuk dari pemimpin China, bahwa situasi seperti ini tidak boleh berlanjut,” kata Penasihat Keamanan Nasional McMaster.

Konsensus ini jelas akan diuji dalam beberapa bulan mendatang. [uh/ab]

Sumber : voaindonesia.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here