Special Report Setahun Pemerintahan Jokowi – bagian 4

0
7477

Pembangunan Infrastruktur : Indonesia Sentris

Setahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur menjadi fokus yang sangat penting, dan salah satu ciri yang sering didengungkan adalah pembangunan infrastruktur Indonesia Sentris, dimana pembangunan tidak hanya di Pulau Jawa atau di bagian barat Indonesia, tapi bahkan difokuskan juga untuk Pembangunan Indonesia Timur seperti Papua.

Di dalam Rapat Kerja Pemerintah Tahun 2015 dengan para Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia pada Rabu (21/10), Presiden Joko Widodo menegaskan pembangunan infrastruktur bukan Jawa sentris melainkan Indonesia sentris dengan penegasan khusus untuk wilayah Indonesia Timur.

infrastruktur-indonesia sentris


Seperti yang juga dinyatakan Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono saat wawancara eksklusif dengan Vibizmedia (lihat : Peran Strategis Kementerian PUPR Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia), dinyatakan untuk menghadapi tantangan adanya disparitas pertumbuhan atau pembangunan antar wilayah Indonesia di bagian barat dan bagian timur, maka Kementerian PUPR menjalankan strategi basis kewilayahan dengan membagi 35 wilayah pengembangan strategis nasional.

Jika selama ini programming yang dilakukan adalah pembangunan sektoral, seperti jalan, jembatan, pengairan, perumahan dan lainnya, namun sekarang semua program sektoral tersebut harus ditempatkan dalam satu wilayah strategis.

Basuki menyatakan Indonesia dibagi menjadi cluster-cluster industri, pemukiman menjadi 35 wilayah strategis tersebut, kemudian setiap satu wilayah strategis dikeroyok dengan program sektoral jalan, perumahan, air sanitasi dan lainnya.

Hal tersebut bertujuan memfokuskan program dan meminimalkan disparitas wilayah, sehingga pembangunan infrastruktur dapat berjalan di semua wilayah Indonesia.

Kabinet Kerja di era Presiden Joko Widodo juga memfokuskan kepada pembangunan kawasan Indonesia Timur (lihat : Peran Strategis Kementerian PUPR Membangun Indonesia Timur dan Nasional)

Pembangunan Tol Laut Sebagai Poros Maritim Nasional

Presiden Jokowi menyatakan, dibanding negara yang lain biaya transportasi kita memang 2,5-3 kali lebih mahal. Untuk itu pembangunan tol laut dari barat ke timur, timur ke barat, yang menghubungkan konektivitas antara pulau dengan pulau, dapat menurunkan biaya transportasi sehingga biaya logistik juga akan turun.

Rencana pembangunan tol laut untuk terselenggaranya konektivitas transportasi laut yang efektif secara rutin dari barat Indonesia sampai timur wilayah Indonesia melibatkan 24 pelabuhan.

Ke-24 pelabuhan tersebut meliputi lima pelabuhan sebagai hub (pengumpul) yaitu Pelabuhan Belawan/Kuala Tanjung, Pelabuhan Tanjung Priok/Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Perak,Pelabuhan Makassar, dan Pelabuhan Bitung.

Sedangkan 19 pelabuhan sebagai feeder(pengumpan) bagi pelabuhan hub. Ke-19 pelabuhan feeder tersebut adalah Pelabuhan Malahayati, Batam, Jambi (Talang Duku), Palembang, Panjang, Teluk Bayur, Tanjung Emas, Pontianak, Banjarmasin, Sampit, Balikpapan/Kanangau, Samarinda/Palaran, Tanau/Kupang, Pantoloan, Ternate, Kendari, Sorong, Ambon dan Jayapura.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam upaya merealisasikan terwujudnya tol laut dalam program Poros Maritim, akan membangun 188 unit kapal Proyek multiyears tersebut dimulai tahun 2015 hingga 2017.

Pembangunan 188 unit kapal tersebut nantinya akan diperuntukan bagi Kesatuan Penjagaan Laut dan Panti (KPLP), terdiri dari kapal patroli kelas 1 tipe FPV sebanyak 25 unit, kapal patroli kelas 1 tipe MDPS (lima unit), kapal patroli kelas II (dua unit), kapal patroli kelas II (dua unit), kapal patroli kelas III (Aliminium sebanyak enam unit), kapal patroli kelas IV (10 unit), kapal patroli kelas V (25 unit).

Sementara itu, untuk lalu lintas angkutan laut, di antaranya tipe 500 DWT (2 unit), tipe 200 DWT (2 unit), tipe 2.000 GT (25 unit), tipe 1.200 GT (20 unit), tipe 750 DWT (11 unit), semikontainer 100 TEUs (15 unit), kapal rede (20 unit), kapal ternak (lima unit). Sedangkan untuk kenavigasian, meliputi kapal induk perambuan (10 unit) dan kapal pengamat perambuan (lima unit).

Pembangunan Poros Maritim Nasional atau Tol Laut bertujuan untuk membuka akses pelayaran petikemas regional dengan membuat suatu pelabuhan besar berskala hub internasional yang dapat melayani kapal-kapal niaga besar di atas 3.000 TEUs atau sekelas dengan kapal Panamax 6.000 TEUs.

infrastruktur-tol laut


Pembangunan Infrastruktur Perhubungan

Konektivitas antar penduduk juga merupakan fokus yang penting bagi Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakul Presiden Jusuf Kalla untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Hubungan penduduk antar satu lokasi terkecil, desa, kecamatan, kabupaten, kota, antar provinsi, antar pulau bahkan sampai ke mancanegara, membutuhkan sarana perhubungan baik perhubungan di darat, laut maupun udara.

Untuk Bandar udara berupaya dikembangkan pembangunan bandara baru. Kebijakan pengembangan bandara baru diprioritaskan pertama, di daerah rawan bencana dengan tujuan untuk penanganan bencana, sehingga mampu didarati pesawat Hercules C-130 dan pesawat berpenumpang 50 orang dalam rangka evakuasi dan distribusi bantuan.

Kedua, pengembangan bandara di daerah perbatasan negara untuk mendukung keamanan wilayah dan mampu melayani pesawat berpenumpang 50 orang dengan pesawat Hercules C-130.

Ketiga, pengembangan bandara untuk membuka isolasi daerah. Bandara yang dikembangkan di daerah terisolasi untuk dapat melayani penerbangan perintis dengan pesawatberpenumpang 25 orang dengan klasifikasu landasan 2C.

Keempat, pengembangan bandara di daerah tujuan wisata sebagai pintu gerbang dan hub pariwisata nasional.

Selain pembangunan Bandara, juga dilakukan pembangunan Jalan Darat, Pelabuhan Laut dan Penyeberangan Perinitis khususnya di luar Pulau Jawa.

infrastruktur-perhubungan


Pembangunan Infrastruktur dan Swasembada Pangan

Untuk mendukung swasembada pangan, maka diperlukan dukungan pembangunan infrastruktur. Seperti pembangunan persawahan, dibutuhkan sumber pengairan, maka dibangun jaringan irigasi teknis.

Untuk menghasilkan energi listrik yang dibutuhkan untuk pengelolaan produksi daging dan perikanan, maka diperlukan pembangunan bendungan untuk penghasil tenaga listrik.

swasembada pangan


 

Groundbreaking Light Rail Transit Atasi Kemacetan Kota

Proyek percepatan pembangunan Light Rail Transit (LRT) Indonesia, pada hari Rabu (9/9) diresmikan dengan ditandai dengan acara groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo bertempat di Pintu Tol Taman Anggrek,Taman Mini, Jakarta Timur.

Kemacetan telah menjadi masalah serius di Jakarta dan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi. Berdasarkan survey trafik oleh Pustral UGM dan Lapi ITB tahun 2013, arus kemacetan kendaraan yang masuk ke DKI terbanyak berasal dari Bekasi dan Cibubur sebesar 64%.

Proyek pelaksanaan pembangunan lintas pelayanan LRT terdiri atas 2 tahap dimana tahap I akan dimulai kuartal akhir tahun 2015 dan direncanakan selesai tahun 2018,sedangkan lintas pelayanan tahap II akan dimulai pada kuartal akhir tahun 2016 dan akan berakhir pada akhir tahun 2018.

Gubernur-DKI-Jakarta-Basuki-Tjahja-Purnama-Sedang-Menjelaskan-Lintas-Layanan-LRT-Kepada-Presiden-Joko-Widodo2-725x483

Foto : Vibizmedia/Rully


 

Pembangunan MRT

Pada 21 September 2015, Presiden Jokowi meresmikan pengoperasian mesin pengeboran atau tunnel boring machine (TBM) yang pertama dan dinamakan Antareja. Mesin bor Antareja tersebut merupakan mesin yang pertama dioperasikan dari total empat mesin yang akan beroperasi dari proyek MRT. Mesin tersebut dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 104 dan CP 105 (Senayan-Setiabudi) yaitu SOWJ Joint Venture yang terdiri dari Shimizu, Obayashi, Wijaya Karya dan Jaya Konstruksi.

Mesin yang diproduksi oleh perusahaan Jepang – Japan Tunnel Systems Corporation (JTSC) dengan diameter 6,7 meter, panjang 43 meter dan bobot 323 ton. TBM ini dapat mengebor terowongan bawah tanah dengan kecepatan 8 meter per hari.

Presiden Jokowi sampaikan apresiasinya kepada pengembang PT. MRT Jakarta dan seluruh kontraktor yang telah bekerja dengan sangat baik hingga proyek MRT fase I Lebak Bulus – Bundaran HI terus berjalan dan Presiden mendorong MRT tahap II dari Bundaran HI – Kampung Bandan dikerjakan.

Bor-Bawah-Tanah-Fase-I-Dibawah-Patung-Pemuda-Senayan-725x483

Foto : Vibizmedia/Rully


 

 

Diproduksi oleh Vibiz Research Center

Team Analyst:
Daniel Sumbayak, CEO and Group Head, Vibiz Research Center.
Asido Situmorang, Economic and Business Research Head, Vibiz Research Center.
Mark Sinambela, Senior Analyst, Vibiz Research Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here