Special Report Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia : Pembangunan Industri Indonesia (2015-2019) – Bagian 2

0
3084

Rencana Pembangunan Industri Indonesia

Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035, ditetapkan tahapan dan arah rencana pembangunan industri nasional diuraikan sebagai berikut:

Tahap I (2015-2020)

Arah rencana pembangunan industri nasional pada tahap ini dimaksudkan untuk “meningkatkan nilai tambah sumber daya alam pada industri hulu berbasis agro, mineral dan migas, yang diikuti dengan pembangunan industri pendukung dan andalan secara selektif melalui penyiapan SDM yang ahli dan kompeten di bidang industri, serta meningkatkan penguasaan teknologi.”

Tahap II (2020-2025)

Arah rencana pembangunan industri nasional pada tahap ini dimaksudkan untuk “mencapai keunggulan kompetitif dan berwawasan lingkungan melalui penguatan struktur industri dan penguasaan teknologi, serta didukung oleh SDM yang berkualitas.”

Tahap III (2025-2035)

Arah rencana pembangunan industri nasional pada tahap ini dimaksudkan untuk “menjadikan Indonesia sebagai Negara Industri Tangguh yang bercirikan struktur industri nasional yang kuat dan dalam, berdaya saing tinggi di tingkat global, serta berbasis inovasi dan teknologi.”

 

Demikian juga dalam Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, ditetapkan bahwa dalam 9 program Nawa Cita masuk menjadi Agenda Nasional Pembangunan Indonesia. Dimana pada program ke 6 Nawa Cita, pada salah satu prioritasnya adalah  Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional dengan meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui akselerasi pertumbuhan industri manufaktur.

 

Target Pembangunan Industri Indonesia

Pemerintah Indonesia periode 2015-2019 melalui Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menjawab tantangan industri Indonesia yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019

1. Kontribusi Industri terhadap PDB Indonesia

Industri-PDB

 

2. Pengembangan Industri Sedang-Besar

Industri-besar-sedang

 

3. Meningkatkan Pertumbuhan Industri Pengolahan

Industri-pengolahan

 

4. Meningkatkan Investasi Substitusi Impor

Industri-substitusi impor

BKPM menargetkan realisasi investasi sebesar Rp3.500 triliun pada periode lima tahun mendatang (2015-2019), yang berasal dari tujuh sektor yang menjadi fokus yaitu kelistrikan, hilirisasi pertanian, maritim, industri padat karya, industri substitusi impor, hilirisasi produk tambang, dan infrastruktur.

 

5. Meningkatkan Produktivitas Industri

Industri-produktivitas

a. Peningkatan Efisiensi Teknis

1) Pembaharuan/revitalisasi permesinan industri;

2) Peningkatan dan pembaharuan keterampilan tenaga kerja;

3) Optimalisasi keekonomian lingkup industri (economic of scope) melalui pembinaan klaster industri.
b. Peningkatan Penguasaan Iptek/Inovasi

1) Infrastruktur mutu (measurement, standardization, testing, and quality);

2) Layanan perekayasaan dan teknologi;

3) Penyelenggaraan riset dan pengembangan teknologi;

4) Penumbuhan entrepreneur berbasis inovasi teknologi (teknopreneur).
c. Peningkatan Penguasaan dan Pelaksanaan Pengembangan Produk Baru (New Product Development) oleh industri domestik.

d. Peningkatan kualitas SDM Industri

e. Akses ke sumber pembiayaan yang terjangkau

Fasilitas dan pemberian insentif dalam rangka peningkatan daya saing dan produktivitas diprioritaskan pada: (1) industri strategis menurut Kebijakan Industri Nasional; (2) industri maritim; dan (3) industri padat tenaga kerja

 

6. Penyebaran Sentra Industri

Mendekatkan sentra industri kepada sumber industri merupakan cara yang efisien dan meningkatkan produksi industri. Karenanya sangat penting untuk pengembangan sentra industri diarahkan tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan di seluruh Indonesia, disesuaikan dengan potensi sumber daya di daerah tersebut.

Strategi pengembangan perwilayahan industri adalah:

a. Memfasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri (KI) yang mencakup:

  • Bintuni – Papua Barat;
  • Buli – Halmahera Timur-Maluku Utara;
  • Bitung – Sulawesi Utara,
  • Palu – Sulawesi Tengah;
  • Morowali – Sulawesi Tengah;
  • Konawe – Sulawesi Tenggara;
  • Bantaeng – Sulawesi Selatan;
  • Batulicin – Kalimantan Selatan;
  • Jorong – Kalimantan Selatan;
  • Ketapang – Kalimantan Barat;
  • Landak – Kalimantan Barat,
  • Kuala Tanjung, Sumatera Utara,
  • Sei Mangke – Sumatera Utara;
  • Tanggamus, Lampung

 

14 kawasan industri di luar jawa

b. Membangun paling tidak satu kawasan industri di luar Pulau Jawa

c. Membangun 22 Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang trdiri dari 11 di Kawasan Timur Indonesia khususnya Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur), dan 11 di Kawasan Barat Indonesia.

d. Berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam membangun infrastruktur utama (jalan, listrik, air minum, telekomunikasi, pengolah limbah, dan logistik), infrastruktur pendukung tumbuhnya industri, dan sarana pendukung kualitas kehidupan (Quality Working Life) bagi pekerja.

Dengan adanya rencana, sasaran dan target yang ditetapkan, diharapkan pembangunan industri Indonesia dapat berjalan dan mencapai tujuan, dimana pembangunan industri memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dengan terciptanya lapangan kerja dan meningkatkan kualitas masyarakat itu sendiri dengan penerapan teknologi dan modernisasi, juga memberikan kontribusi besar bagi pendapatan negara.

 

Contoh Keberhasilan Industrialisasi : Samsung

Tahun 1930-an Samsung mulai berdiri, waktu itu hanyalah perusahaan lokal yang berbisnis sembako, seperti sayur-mayur, buah-buahan, gula, beras, dan ikan kering. Lalu, perusahaan itu mengembangkan bisnis terigu dan tekstil pada 1950-an.

Tahun 1961-1979, Presiden Park Chung-hee menggulirkan program industrialisasi Korsel, maka Samsung beralih ke sektor manufaktur dan berfokus memproduksi peranti elektronik.

Awal 1980-an, Samsung Electronics sedang gencar-gencarnya mengembangkan bisnis semikonduktor. Pendiri Samsung yakin, bisnis semikonduktor akan menjadi primadona dan menentukan masa depan Korsel.

Ketertarikannya bermula ketika perusahaan Jepang kesulitan mendapatkan semikonduktor selama krisis minyak. Tanpa pasokan komponen semikonduktor yang stabil, kegiatan produksi televisi dan kulkas di Jepang akan terhenti. Namun, menjadi produsen semikonduktor bukanlah perkara mudah. Pemimpin Samsung harus menerima kenyataan bahwa sumber daya manusia Korsel ketika itu belum siap 100 persen untuk menjalankan bisnis teknologi tinggi tersebut. Karena itulah, Samsung memutuskan untuk “mengimpor” para insinyur semikonduktor Jepang pada tiap akhir pekan.

Para insinyur Korsel pun didorong untuk menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya dari para insinyur Jepang. Dengan cara itu, Samsung Electronics mengembangkan bisnis memori atau penyimpanan data elektronik. Produk andalannya, DRAM 256K, sukses di pasaran pada pertengahan 1987. Tak lama kemudian, Samsung menjadi pemimpin pasar memori sejak 1993 dan mempertahankan posisi setiap tahun selama hampir dua dekade.

Selanjutnya, langkah Samsung di bisnis elektronik kian kencang. Berbagai produk mereka produksi mulai dari televisi, penyejuk ruangan, hingga telepon pintar berbasis teknologi Android. Di pasar telepon pintar, Samsung kini menjadi pemimpin pasar.

Dikutip dari AFP, 8 Juni 2014, Samsung saat ini menguasai 25,2 persen pasar telepon pintar dunia (74,3 juta unit), diikuti Apple 11,9 persen (35,1 juta), Huawei 6,9 persen (20,3 juta unit), Lenovo 5,4 persen (15,8 juta), dan LG 4,9 persen (14,5 juta). Sisanya, 39,3 persen (135,3 juta), dibagi-bagi kepada pemain lain. Data itu berdasarkan perhitungan hingga kuartal kedua 2014.

Melihat pertumbuhan industri Samsung, maka jelas terlihat berbagai unsur yang dapat meningkatkan pertumbuhan industri seperti berkembangnya industri skala besar lebih memberikan hasil yang maksimal, hilirisasi dengan menambah nilai tambah produk baik melalui penerapan teknologi dan inovasi membuat produk tersebut bernilai tambah tinggi dan semakin memperluas lapangan pekerjaan yang bahkan meningkatkan keterampilan dan skill tenaga kerja itu sendiri.

Kemajuan industri Samsung tidak hanya memajukan dan menguntungkan Samsung, namun memberikan kemajuan dan keuntungan bagi rakyat Korea Selatan dan juga negara Korea Selatan sendiri. Pelajaran dari industri Samsung inilah yang bisa menjadi gambaran bahwa industri Indonesia harus maju untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa Indonesia.

Mari kita dukung pembangunan industri Indonesia!

 

Baca artikel terkait : Rencana dan Target Pembangunan Industri Indonesia 2015-2019 bagian 1

 

Diproduksi oleh Vibiz Research Center
Team Analyst:
Daniel Sumbayak, CEO and Group Head, Vibiz Research Center.
Asido Situmorang, Economic and Business Research Head, Vibiz Research Center.
Mark Sinambela, Senior Analyst, Vibiz Research Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here